PENDIDIKAN KESEHATAN DI SEKOLAH

Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan yaitu agar peserta didik:

  1. Memiliki pengetahuan tentang isu kesehatan
  2. Memiliki nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat
  3. Memiliki keterampilan dalam pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan
  4. Memiliki kebiasaan hidup sehat dan menularkan perilaku hidup sehat
  5. Tumbuh kembang secara harmonis
  6. Menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit
  7. Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar
  8. Memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal.

Cara melaksanakan pendidikan kesehatan di sekolah dilakukan melalui:

  1. Penyajian pendidikan. Cara penyajian pendidikan lebih menekankan peran aktif peserta didik melalui kegiatan ceramah, diskusi, demonstrasi, pembimbingan, permainan, dan penugasan.
  2. Penanaman kebiasaan. Cara penanaman kebiasaan dilakukan melalui penugasan untuk melalukan cara hidup sehat sehari-hari dan pengamatan terus menerus oleh guru dan kepala sekolah.

Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara:

  1. Intra kurikuler. Pendidikan kesehatan dilakukan saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Misalnya pada pendidikan jasmani ataupun dapat terintegratif pada suatu mata pelajaran lainnya yang disampaikan pada peserta didik.
  2. Ekstra kurikuler.. Pendidikan kesehatan dilakukan di luar jam pelajaran yang dilakukan di sekolah atau di luar sekolah. Misalnya, melaksanakan penyuluhan tentang gizi dan narkoba serta melaksanakn pelatihan UKS bagi peserta didik.

Materi pendidikan kesehatan yang diajarkan di sekolah berbeda-beda disesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Materi pendidikan itu antara lain demam berdarah, flu burung, pelayanan gizi, kesehatan gigi dan mulut, pengelolaan sampah, pengelolaan tinja, sarana pembuangan limbah, pengelolaan air bersih, penyediaan air bersih, air dan sanitasinya, pegenalan pada penyakit menular dan pencegahannya. Khusus untuk peserta didik SMP/MTs dan SMA/SMK/MA ditambah dengan kesehatan reproduksi, bahaya rokok dan deteksi dini penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, minuman keras, dan bahan-bahan yang berbahaya serta zat adiktif (NAPZA) dan HIV/AIDS.

UKS dilaksanakan mulai dari TK/RA sampai SLTA/MA, serta dilaksanakan secara berjenjang dari sekolah/madrasah sampai pusat secara terkoordinasi. Kegiatan UKS di lingkungan sekolah meliputi beberapa kegiatan, yang pertama adalah rapat koordinasi baik di tingkat pusat, propinsi, kabupaten serta tim Pembina. Semua dilakukan dengan mengundang para anggota tim Pembina UKS baik dari bidang kesehatan dalam negeri maupun dari pendidikan nasional. Kedua, memberikan bantuan peningkatan kualitas kesehatan madrasah, kemudian orientasi dokter kecil untuk MI, dan kader kesehatan remaja untuk MTs dan MA.

LAYANAN KESEHATAN DI SEKOLAH

Pelayanan kesehatan dilakukan secara komprehensif dan terpadu meliputi:

  1. Promotif. Promotif adalah peningkatan penyuluhan dan latihan keterampilan pelayanan kesehatan.
  2. Preventif. Preventif adalah layanan kesehatan untuk mencegah sebelum timbulnya penyakit.
  3. Kuratif. Kuratif adalah penyembuhan penyakit yang diderita.
  4. Rehabilitasi. Rehabilitasi adalah pemulihan pada keadaan kesehatan awal dari penyakit yang telah diderita.

Pelayanan kesehatan lingkungan di sekolah dilakukan untuk menciptaan lembaga pendidikan yang dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam pelayanan UKS terdapat beberapa paket yaitu

Paket minimal

  1. Penyuluhan dan UKGS tahap I
  2. Imunisasi
  3. Pembinaan LSS

Paket Standar. Paket minimal ditambah:

  1. Dokter kecil
  2. P3K
  3. Penjaringan kesehatan
  4. Pemeriksaan kesehatan berkala
  5. UKGS tahap II
  6. Warung sekolah

Paket Optimal. Paket standar ditambah:

  1. Konseling kesehatan remaja
  2. UKGS tahap III
  3. Kebun sekolah
  4. Dana sehat

Paket paripurna: Paket optimal ditambah kesegaran jasmani.


 

DAFTAR PUSTAKA

http://drlukashermawan.blogspot.com/2011/01/program-usaha-kesehatan-sekolah-uks.html

http://ompundaru.wordpress.com/2009/01/05/program-kesehatan-sekolah-yang-efektif-menuju-sekolah-ramah-anak/

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1179-pendidikan-dan-kesehatan-menentukan-kualitas-sumber-daya-manusia.html

http://www.disdik-kepri.com/index.php?option=com_content&view=article&id=181:usaha-kesehatan-sekolah&catid=44:makalah&Itemid=86

http://www.uksmtsnjabung.blitarkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56&Itemid=124

Kaluge, Laurens. Sendi-Sendi Manajemen Pendidikan. Surabaya: Unesa Unervisity Press

 

SEKOLAH EFEKTIF

Sekolah berasal dari bahasa latin skhole, scola, scolae atau schola  yang mempunyai arti waktu luang atau waktu senggang. Krishnamurti (dalam Pora, 2004: 16) mengatakan bahwa arti senggang mempunyai maksud waktu yang tidak terbatas bagi seseorang dalam belajar baik sains, sejarah, matematik ataupun tentang dirinya.  Maka kami menyimpulkan, sekolah adalah lembaga yang dirancang dalam rangka penyelenggaraan proses belajar mengajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik yang telah mempunyai aturan, kurikulum dan kelengkapan lainnya.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya);  manjur atau mujarab; dapat membawa hasil; berhasil guna;  mulai berlaku. Sehingga efektif dapat didefinisikan suatu pencapaian tujuan yang dilakukan secara tepat dengan cara-cara yang telah ditentukan.

Keberhasilan sebuah sekolah biasanya ditentukan oleh sejauhmana tujuan pendidikan itu dapat tercapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan  yang berlangsung di sekolah. Oleh karena itu muncullah sekolah efektif dan sekolah tidak efektif. Sekolah efektif mempunyai tingkat ketersesuaian yang tinggi  antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil yang dicapai sekolah.

Sekolah yang efektif selalu menyempurnakan programnya setiap tahun sehingga dapat mengembangkan kompetensi siswa yang adaptif terhadap setiap perkembangan IPTEKs dan lingkungan global

Jadi sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan rencana dan target hasil yang ditetapkan terlebih dahulu. Sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki manajemen yang baik, transparan dan akuntabel yang mampu memberdayakan semua komponen sekolah untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif.

Sekolah adalah sistem terbuka yang mempunyai subsistem-subsistem yang saling terkait dan berhubungan. Bosker dan Guldemon (dalam Moerdiyanto, 2007: 6) mengatakan bahwa sistem sekolah yang efektif terdiri dari 5 komponen yaitu:

  1. Konteks. Misalnya kebutuhan masyarakat, lingkungan sekolah dan kebijakan pendidikan
  2. Input. Misalnya sumber daya dan kualitas guru
  3. Proses. Misalnya iklim sekolah dan kurikulum
  4. Output. Misalnya hasil belajar siswa dan pencapaian keseluruhan
  5. Outcome. Misalnya kesempatan kerja dan penghasilan

Menurut Widodo (2011: 34), sekolah efektif mempunyai ciri-ciri yaitu:

  1. Adanya standar disiplin yang berlaku bagi semua warga sekolah
  2. Memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas
  3. Mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi
  4. Peserta didik mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan
  5. Peserta didik lulus dengan menguasai pengetahuan akademik
  6. Adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi
  7. Peserta didik mau bekerja keras dan bertanggung jawab
  8. Kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi dan membuat rencana sekolah bersama-sama para guru
  9. Adanya lingkungan yang nyaman
  10. Penilaian yang secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.

Menurut Heneveld(dalam Moerdiyanto, 2007:5) faktor-faktor sekolah efektif adalah

  1. Dukungan orang tua siswa dan lingkungan
  2. Dukungan efektif dari sistem pendidikan
  3. Dukungan materi yang cukup
  4. Kepemimpinan yang efektif
  5. Pengajaran yang baik
  6. Fleksibilitas dan otonomi
  7. Waktu yang cukup di sekolah
  8. Harapan yang tinggi dari siswa
  9. Sikap positif dari para guru
  10. Peraturan dan disiplin
  11. Kurikulum yang terorganisir
  12. Adanya penghargaan dan insentif
  13. Waktu pembelajaran yang cukup
  14. Variasi strategi pembelajaran
  15. Frekuensi pekerjaan rumah
  16. Adanya penilaian dan umpan balik

Sekolah sebagai sebuah sistem mempunyai input, proses, output, dan feedback. Maka karakteristik sekolah efektif menurut Widodo (2011: 35) dapat dilihat dari indikator input dan proses yaitu:

Indikator Input dan Proses Sekolah Efektif

Input

Proses

  1. Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas
  2. Sumber daya tersedia dan siap
  3. Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi
  4. Memiliki harapan dan prestasi yang tinggi
  5. Fokus pada pelanggan (khususnya siswa)
  1. Proses belajar mengajar yang efektifitasnya tinggi
  2. Kepemimpinan sekolah yang kuat
  3. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
  4. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
  5. Sekolah memiliki budaya mutu
  6. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis
  7. Sekolah memiliki kewenangan(kemandirian)
  8. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat
  9. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi manajemen)
  10. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah
  11. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
  12. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
  13. Komunikasi yang baik
  14. Sekolah memiliki akuntabilitas.

Kepala sekolah mempunyai peranan yang penting dalam mengembangkan sekolah efektif melalui kepemimpinannya. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah harus mampu mendayagunakan semua sumber yang ada di sekolah agar mencapai sekolah efektif. Menurut Anwar (2011: 10) kepala sekolah efektif dapat dilihat dari indikator-indikator kinerjanya yaitu:

  1. Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif
  2. Menerapkan system evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan
  3. Melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat
  4. Melaksanakan pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi
  5. Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
  6. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib (Safe and Orderly)
  7. Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah
  8. Menumbuhkan harapan prestasi tinggi
  9. Menumbuhkan kemauan untuk berubah
  10. Melaksanakan Keterbukaan/Transparan Managemen Sekolah
  11. Menetapkan secara jelas mewujudkan Visi dan Misi
  12. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif
  13. Melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara efektif
  14. Melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/ Ekstrakurikuler secara efektif

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah sekolah menjadi sekolah efektif antara lain:

  1. Komunikasi yang terbuka. Komunikasi dalam sekolah baik frekuensi dan kesempatan untuk menerima umpan balik ditingkatkan lebih transparan. Sehingga para stakeholder sekolah mengetahui informasi yang lebih jelas dan ikut  berpartisipasi mendukung pengembangan sekolah.
  2. Pengambilan keputusan bersama. Kepala sekolah hendaknya melibatkan stakeholder dalam pengambilan keputusan. Sehingga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab masing-masing pihak.
  3. Memperhatikan kebutuhan guru. Sekolah memperhatikan kebutuhan guru sehingga dapat memberikan motivasi tersendiri bagi guru karena kebutuhannya diperhatikan. Ketika kesejahteraan guru terjamin maka guru akan lebih bersemangat dalam melakukan dan memerbaiki pengajarannya.
  4. Memperhatikan kebutuhan siswa. Sekolah yang memperhatikan kebutuhan siswa akan lebih diterima oleh masyarakat. Sekolah perlu melakukan strategi-strategi untuk membuat sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar dan memenuhi kebutuhan siswanya.
  5. Keterpaduan sekolah dan masyarakat. Antara sekolah dan masyarakat harus dapat saling bekerja sama dan terpadu dalam rangka mengembangkan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Pora, Yusran. 2004. Selamat Tinggal Sekolah. Yogyakarta:Media Pressindo

Wibisino, Agus. 2010. Efektif dan Efisiensi, (Online), (http://aguswibisono.com/2010/efektif-dan-efisien/, diakses  13 April 2012)

Anwar, Qomari. 2011. Sekolah yang Efektif, (Online), (http://ngatimin.weebly.com/uploads/5/4/1/1/5411453/sekolah_efektif.ppt, diakses 13 April 2012)

SD Negeri Kamal. 2011. Sekolah Efektif dalam Prespektif Global, (Online), (http://sdnegerikamalkulonprogo.blogspot.com/2011/08/sekolah-efektif-dalam-prespektif-global.html, diakses 13 April 2012)

Danim, Sudarwan.  2010. Otonomi Manajemen Sekolah. Bandung:Alfabeta

Moerdiyanto. 2007. Manajemen Sekolah Indonesia yang Efektif Melalui Penerapan Total Quality Mnagement, (Online), IMEC 2007 Proceedings, (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Drs.%20Moerdiyanto,%20M.Pd./ARTIKEL%20MANAJEMEN%20SEKOLAH%20EFEKTIF.pdf, diakses 13 April 2012)

Widodo, Suparno Eko. 2011. Manajemen Mutu Pendidikan: untuk Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta:Ardadizya Jaya

Sodikin, Herdik. 2011. Manajemen Sekolah Efektif dan Unggul, (Online), (http://ilmucerdaspendidikan.wordpress.com/2011/04/27/157/, diakses 12 April 2012)

EKONOMI DAN PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Dalam UU nomor 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (PROPENAS), dinyatakan bahwa ada tiga tantangan besar dalam bidang pendidikan di indonesia, yaitu (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai, (2) mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing dalam pasar kerja global, (3) sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman, memerhatikan kebutuhan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah ditegaskan bahwa sistem pendidikan nasional yang bersifat sentralis selama ini kurang mendorong terjadinya demokratisasi dan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan. Sebab sistem pendidikan yang sentralistis diakui kurang bisa mengakomodasi keberagaman daerah, keberagaman sekolah, serta keberagaman peserta didik, bahkan cenderung mematikan partisipasi masyarakat dalam pengembangan masyarakat dalam pengembangan pendidikan.

Suatu Negara dapat berkembang pesat tidak cukup didukung dengan memiliki kekayaan alam yang melimpah.  Akan tetapi kemampuan sumber daya manusia dalam mengelolah kekayaan alam disuatu negara sangat berpengaruh. Dengan begitu perlu adanya peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalu jalur pendidikan baik itu informal,formal maupun non formal, yang mana secara tidak lagsung dapat mengisi pembangunan Negara.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh manusia dalam upaya membentuk manusia yang berkualitas sehingga mampu memajukan dan mengembangkan suatu negara. Dari definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia sehingga mampu memberikan sumbangan-sumbangan terhadap kemajuan negara.

Pendidikan merupakan salah satu faktor  dominan dalam mengupayakan pembangunan suatu negara secara optimal. Melalui pendidikan yang bermutu akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang memiliki pengetahuan yang tinggi serta mampu mengimplementasikannya secara optimal sehingga mampu memberikan sumbangan terhadap kemajuan negara.

Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka akan semakin produktif sehingga akan menghasilkan pendapatan yang tinggi. Semakin banyak masyarakat dalam suatu negara memiliki pendapatan yang tinggi maka akan semakin sejahtera. Sehingga tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat akan membantu dalam proses pembangan suatu negara.  Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai pendidikan dan pembangunan untuk memperoleh pengetahuan secara mendalam mengenai hal tersebut.

PEMBAHASAN

1. Pengertian Pendidikan dan Pembangunan

Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal I, pendidikan didefinisikan sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai  “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.

Ki Hajar Dewantara (dalam Syarif, t.t:3), pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Dalam pengertian yang agak luas, Tardif (dalam Syah, 2010:10) mengartikan pendidikan sebagai seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan.

Sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana dalam mengembangkan kemampuan, mengubah sikap dan tingkah laku dalam rangka memberdayakan dan mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran.

Sedangkan pengertian pembangunan menurut Buchori (dalam Mahmud, 2012:1) adalah suatu proses peralihan yang dialami oleh suatu masyarakat dari kondisi yang serba “tradisional” ke kondisi yang serba “modern”, seperti yang diperlihatkan oleh negara-negara maju.

Pembangunan dapat dilihat sebagai upaya mengenali lingkungan-lingkungan yang terdapat dalam  kehidupan masyarakat sekarang ini dan selanjutnya menentukan serta melaksanakan tindakan-tindakan tertentu untuk meluruskan kekurangan-kekurangan tersebut dan dengan demikian menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan (Buchori dalam Mahmud, 2012:1).

Dari uraian tersebut, kami menyimpulkan bahwa pembangunan adalah yaitu suatu proses perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang ada dengan melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat di masa depan sehingga menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

2. Keterkaitan Pendidikan dan Pembangunan

Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Pembangunan dalam keterkaitannya dengan pengembangan sumberdaya manusia yang berarti bahwa pembangunan tidak semata-mata pembangunan material dan fisik saja akan tetapi juga pembangunan spiritual yaitu pembangunan manusia yang menjadi tugas utama pendidikan.

Disini terlihat, bahwa esensi pembangunan bertumpu dan berpangkal dari  manusianya. Pembangunan berorientasi pada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Karena hanya pembangunan yang terarah kepada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia yang dapat meningkatkan martabatnya sebagai manusia. Peningkatan martabat manusia selaku manusia yang menjadi tujuan final dari pembangunan.

Dalam ruang gerak pembangunan, manusia dapat dipandang sebagai objek dan sekaligus juga sebagai subjek pembangunan. Sebagai obyek pembangunan manusia dipandang sebagai sasaran yang dibangun. Dalam hal ini pembangunan meliputi ikhtiar ke dalam diri manusia, berupa pembinaan pertumbuhan jasmani, dan perkembangan rohani yang meliputi kemampuan penalaran, sikap diri, sikap sosial, dan sikap terhadap lingkungannya, tekat hidup yang positif serta keterampilan kerja. Manusia dipandang sebagai “subjek” pembangunan karena ia dengan segala kemampuannya menggarap lingkungannya secara dinamis dan kreatif, baik terhadap sarana lingkungan alam, maupun lingkungan sosial/spiritual (Rokhmani, 2009:15).

Jadi pendidikan mengarah ke dalam diri manusia, sedang pembangunan mengarah ke luar yaitu ke lingkungan sekitar manusia. Jika  pendidikan  dan pembangunan dilihat sebagai suatu garis proses, maka keduanya merupakan suatu garis yang terletak kontinyu yang saling mengisi. Proses pendidikan pada satu garis menempatkan manusia sebagai titik awal, karena pendidikan mempunyai tugas untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk pembangunan, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi hajat hidup manusia luas serta mengangkat martabat manusia sebagai makhluk. Hasil pendidikan itu menunjang pembangunan, juga dapat dilihat korelasinya dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang mengalami pendidikan (Rokhmani, 2009:15).

 3. Peranan Pendidikan Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia

Pembangunan suatu negara memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia merupakan modal dasar sebagai agen-agen aktif yang dapat mengumpulkan modal, sehingga dapat mengeksploitasikan sumber-sumber alam untuk melaksanakan pembangunan. Sebuah negara yang tidak dapat mengembangkan keahlian dan pengetahuan rakyatnya maka tidak dapat memperdayakan mereka secara efektif dalam pembangunan. Sumber daya manusia yang berkualitas dapat diwujudkan melalui pendidikan yang baik dan bermutu.

Pendidikan memberi sumbangan dalam menyediakan tenaga kerja berpengetahuan, berketrampilan dan menguasai teknologi sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Sebagai contoh, selama kurun waktu 1920-an hingga 1990-an, pembangunan pendidikan di Amerika Serikat telah memberi sumbangan terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negaranya sebesar 14%. Bila perkembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan proses produksi dikonfirmasi secara ekonomi, sumbangannya meningkat berkali lipat mencapai 42% (Syechalad, 2010: 45).

Muhammad (2011) menygatakan sumbangan pendidikan terhadap pembangunan dapat dilihat dari beberapa segi dibawa ini :

a.  Segi Sasaran Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berkpribadian kuat dan utuh serta bermoral tinggi. Jadi tujuan citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang dapat menjadi sumber daya pembangunan yang manuisawi.

b. Segi Lingkungan Pendidikan

Klasifikasi ini menunjukkan peran pendidikan dalan berbagai lingkungan atau sistem. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga (pendidikan informal), lingkungan sekolah (pendidikan formal), lingkungan masyarakat (pendidikan non formal) atau dalam sistem pendidikan pra jabatan dan dalam jabatan.

1. Lingkungan keluarga

Dalam lingkungan keluarga anak dilatih berbagai kebiasaan yang baik (habbit formation) tentanng hal-hal yang berhubungan dengan kecekatan, kesopanan, dan moral. Diamping itu, kepada mereka ditanamkan keyakinan-keyakinan yang penting utamanya hal-hal yang bersifat religious. Hal-hal tersebut sangat tepat dilakukan pada masa kanak-kanak sebelum perkembangan rasio yang mendominasi perilakunya. Kebiasan baik dan keyakinan-keyakinan penting yang mendarah daging merupakan landasan yang sangat diperlukan untuk pembangunan

2. Lingkungan Sekolah

Pada lingkungan sekolah, peserta didik dibimbing untuk memperluas bekal yang telah diperoleh dari lingkungan keluarganya berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Bekal yang dimaksud disini berupa bekal dasar, lanjutan ataupun bekal kerja yang langsung dapat digunakan secara aplikatif (sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi). Bekal tersebut dipersiapkan secara formal dan berguna sebagai sarana penunjang pembangunan diberbagai bidang.

3. Lingkungan masyarakat

Pada lingkungan masyarakat (pendidikan formal), peserta didik memperoleh bekal praktis untuk berbagai jenis pekerjaan, khusunya mereka yang tidak sempat melanjutkaan proses belajarnya melalui jalur formal. Pada masyarakat Indoneisia, sistem pendidikn non formal mengalami perekmbangan yang sangat pesat. Hal ini bertalian dengan semakin berkembangnnya sector swasta yang menunjang pembangunan. Disegi lain, hal tersebut dapat diartikan bernilai positif karena dapat mengkompensasikan keterbatasan lapangan kerja formal dilembaga pemerintah. Disamping itu juga dapat memperbesar jumlah angkatan kerja tingkat rendah dan menengah yang sangat diperlukan untk memenuhi proporsi yang sealaras antara pekerja rendah, menengah, dan tinggi. Hal demikian dapat dipandang sebagai upaya untuk menciptakan kestabilan nasional.

c. Segi Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan Tinggi (PT) memberikan bekal kepada peserta didik secara berkesinambungan. Pendidikan dasar merupkan basic education ynag memberikan bekal dasar bagi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Artinya pendidikan tinggi berkualitas, jika pendidikan menengahnya berkualitas, pendidikn mengenag berkualitas jika pendidikan dasarnya berkualitas. Dengan basic education pada pendidikan dasar juga diartikan bahwa pendidikan dasar memberikan bekal dasar kepada warga Negara yang tidak sempat melanjutkan pendidikan untuk dapat melibatkan diri kedalam gerak pembangunan.

d. Segi Pembidangan Kerja Atau Sektor Kehidupan

Pembidangan kerja menurut sektor kehidupan meliputi antara lain bidang ekonomi, hukum, sosial, politik, keuangan, perhubungan, dan komunikasi, pertanian, pertambangan, pertanahan dan lain-lain. Pembangunan sektor kehidupan tersebut dapat diartikan sebagai aktivitas, pembinaan, pengembangan, dan pengisian bidang-bidang kerja tersebut agar dapat memenuhi hajat hidup warga Negara sebagai suatu bangsa sehinggat tetap jaya dalam kancah kehidupan antara bangsa-bangsa di dunia. Pembinaan dan pengembangan bidang-bidang tersebut hanya mungkin dikerjakan jika diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan seperti yang dibutuhkan.

Menurut Mudyoharjo (Mahmud, 2012:1) peranan pendidikan dalam  pembangunan adalah:

1. Mengembangkan teknologi baru.

Hasil pendidikan adalah orang terdidik yang mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian dan pengembangan yang dapat menghasilkan teknologi baru.

2. Menjadi tenaga produktif dalam  bidang konstruksi.

Orang-orang terdidik hasil pendidikan juga masuk dan aktif bekerja di bidang konstruksi yang menghasilkan rancang bangun berbagai macam pabrik dan perusahaan. Dari pabrik dan perusahaan tersebut akan menghasilkan berbagai kebutuhan barang dan jasa.

3. Menjadi tenaga produktif yang menghasilkan barang dan jasa.

Orang-orang terdidik hasil pendidikan dapat menjadi tenaga kerja produktif yang memproses produksi barang-barang kebutuhan hidup dan jasa, sehingga menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan masyarakat.

4. Pelaku generasi dan pencipta budaya

Orang-orang terdidik hasil pendidikan tidak hanya merevisi kebudayaan masa lampau tetapi juga sekaligus melakukan perbaikan-perbaikan  dan penciptaan unsur-unsur budaya baru berdasarkan kebudayaan lama yang telah dimilikinya.

5. Konsumen barang dan jasa.

Orang-orang terdidik hasil pendidikan merupakan orang-orang yang mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan karena mereka membutuhkan barang dan jasa tersebut dan arena mereka adalah orang-orang yang terdidik. Mereka bisa lebih selektif dalam  memilih barang-barang dan jasa yang lebih baik dari pada orang-orang yang tidak terdidik.

Dari uraian tersebut maka kami menyimpulkan sumbangan pendidikan terhadap pembangunan adalah

  1. Menyiapkan manusia sebagai sumber daya pembangunan yang mempunyai sikap, kepribadian yang kuat, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang diperlukan dalam pembangunan.
  2. Mengembangkan pengetahuan dan teknologi baru yang dapat menunjang pelaksanaan pembangunan.
  3. Menyediakan lapangan pekerjaan yang memberi peluang bagi tenaga kerja untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang berarti bidang pendidikan dapat meratakan kesempatan dan pendapatan.

4. Peranan Pendidikan Dalam Pembangunan Ekonomi

Pendidikan memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang bersifat aksiomatik. Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah membuktikan keabsahannya.

Pendidikan bukan hanya melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, memilki pengetahuan dan ketrampilan serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan konduksif bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum.

Pencapaian pendidikan pada semua level niscasnya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan dalam membangun pendidikan akan menghasilkan problem krusial : penganguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan lain-lain sehingga menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.

Ada tiga paradigma yang menegaskan bahwa pembangunan merujuk knowledge based economy lebih dominan:

  1. Kemajuan ekonomi dalam banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Hubungan kausialitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kiat kuat dan solid.
  3. Pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi.

PENUTUP

  1. SIMPULAN
    1. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia dalam upaya meningkatkan kualitas manusia  sehingga manusia lebih produktif dan dapat memberikan sumbangan dalam pembangunan negara
    2. Pendidikan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pembangunan. Karena manusia merupakan subjek dan Objek dari pembangunan. Artinya, pembangunan dilakukan oleh manusia dan dilakukan untuk manusia.
    3. Pendidikan dapat membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sehingga manusia mampu melakukan pembangunan negara melalui keilmuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, Pendidikan merupakan salah satu sarana yang dominan dala pembangunan Sumber Daya Manusia
    4. Pendidikan mampu menghasilkan manusia yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi sehingga lebih produktif. Sehingga dapat menambah pendapatan yang dimiliki
    5. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi produktivitas kerjanya sehingga pendapatannya meningkat dan kesejahteraannya juga ikut meningkat.
  1. SARAN
    1. Peningkatan mutu pendidikan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang secara langsung turut membantu dalam pembangunan suatu negara
    2. Alokasi dana untuk pendidikan hendaknya ditingkatkan untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pendidikan dan pembangunan. Online, (http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/15/pendidikan-dan-pembangunan/, diakses tanggal 04 Desember 2012, 18.59 PM)

Anonim. 2012. Keterkaitan pendidikan dengan pembangunan nasional. Online, (http://www.scribd.com/doc/50993120/Makalah-Keterkaitan-Pendidikan-dengan-Pembangunan-Nasional, diakses tanggal 04 Desember. 19.45 PM )

Mahmud. 2012. Esensi, Tujuan dan Peranan Pendidikan dalam Pembangunan, (Online), (http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/esensi-tujuan-dan-peranan-pendidikan.html, diakses 4 Desember 2012)

Muhammad, Darwis. 2011. Pendidikan dan Pembangunan, (Online), (http://www.psb-psma.org/content/blog/3563-pendidikan-dan-pembangunan, diakses 4 Desember 2012)

Rokhmani, Lisa. 2009. Analisis Human Development Index Indonesia (Investasi Pendidikan sebagai Daya Saing Bangsa). JPE, (Online), Vol. 2, (http://fe.um.ac.id/wp-content/uploads/2010/03/tulisan-bu-lisa.pdf, diakses 4 Desember 2012)

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Syarif, Roni. t.t. Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli, (Online), (http://www.scribd.com/doc/24676437/Definisi-Pendidikan-Menurut-Para-Ahli, diakses 20 Oktober 2012)

Syechalad, Nur. 2010. Pendidikan dan Pembangunan Bangsa. Jurnal Edukasi, (Online), Vol. VI, (http://repository.upi.edu/operator/upload/s_e0551_044410_chapter1, diakses 4 Desember 2012)

UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

PENATAAN RUANG PERPUSTAKAAN

Ruang perpustakaan merupakan sarana yang penting dalam penyelenggaraan perpustakaan karena dalam ruang ini segala aktivitas dan program perpustakaan dirancang dan diselenggarakan. Suatu perpustakaan bukan hanya menyediakan ruang kemudian mengisi dengan koleksi tetapi juga harus memperhatikan lokasi perpustakaan, aspek penataan ruang, penataan perabot dan perlengkapan, alur petugas dan penerangan. Bafadal (2004:47) mengemukakan penataan perpustakaan sekolah mempunyai manfaat yaitu

  1. Dapat menciptakan suasana aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar, baik bagi murid, guru dan pengunjung lainnya.
  2. Mempermudah murid, guru dan pengunjung lainnya dalam mencari bahan-bahan pustaka yang diinginkan.
  3. Petugas perpustakaan sekolah mudah memproses bahan-bahan pustaka, memberikan pelayanan, dan melakukan pengawasan.
  4. Bahan-bahan pustaka aman dari segala sesuatu yang dapat merusaknya.
  5. Memudahkan petugas perpustakaan sekolah dalam melakukan perawatan terhadap semua perlengkapan perpustakaan sekolah.

Kosasih (2009:6) mengemukakan bahwa perpustakaan pada umumnya memiliki empat macam ruangan diantaranya

  1. Ruang koleksi buku (rak-rak buku)
  2. Ruang baca
  3. Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang staf
  4. Ruang sirkulasi

Merencanakan tata ruang harus didasari dengan hubungan antar ruang yang dipandang dari segi efisiensi, alur kerja, mutu layanan, keamanan dan pengawasan. Macam-macam sistem tata ruang perpustakaan yaitu

1.Tata sekat

Tata sekat merupakan cara pengaturan ruangan yang menempatkan koleksi terpisah dari meja pengunjung dengan cara penempatan koleksi yang terpisah oleh sekat antara meja baca dan pengunjung.

2.Tata parak

Dalam sistem ini pembaca dimungkinkan mengambil sendiri koleksi yang terletak di ruangan lain kemusian dibonkan pinjam untuk dibaca di ruangan yang disediakan. Sistem ini hampir sama dengan sistem tata sekat. Perbedaanya hanya terletak pada pemakai yang dapat mengakses dan mengambil koleksi ke rak koleksi

3.Tata baur

Penempatan koleksi dicampur dengan meja bacaan agar pembaca lebih mudah mengambil dan mengembalikkan koleksi sendiri.

(http://dinnikirana.blogspot.com/2012/02/sistem-tata-ruang-perpustakaan.html)

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruangan perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.
  2. Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.
  3. Jarak satu meubelair dengan lainnya dibuat agak lebar agar orang yang lewat lebih leluasa.
  4. Bagian-bagian yang mempunyai tugas sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.
  5. Bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, penjilidan dan pengetikan, hendaknya ditempatkan yang tidak tampak oleh khalayak umum (pengguna perpustakaan).
  6. Apabila memungkinkan, semua petugas dalam satu unit/ ruangan duduk menghadap ke arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.
  7. Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.
  8. Ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa.
  9. Perlu ada lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi musibah/ kebakaran. (http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/03/modul-kuliah-perpustakaan-sekolah-bab-3.html)

Agar menghasilkan penataan ruang perpustakaan yang optimal serta dapat menunjang kelancaran tugas perpustakaan sebagai lembaga pemberi jasa, sebaiknya pustakawan perlu memperhatikan aspek/hal-hal berikut ini:

1.Aspek fungsional

Penataan ruang harus mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan baik bagi petugas perpustakaan maupun bagi pemakai perpustakaan. Penataan yang fungsional dapat tercipta jika antar ruangan mempunyai hubungan  yang fungsional dan bahan pustaka, peralatan dan pergerakan pemakai perpustakaan dapat mengalir dengan lancar. Antar ruang saling mendukung sehinggal betul-betul tercipta fungsi penataan ruangan secara optimal.

2. Aspek psikologis pengguna

Tujuan penataan ruangan adalah agar pengguna perpustakaan merasa nyaman, leluasa bergerak di perpustakaan dan merasa tenang. Kondisi ini dapat diciptakan melalui penataan ruangan yang harmonis dan serasi, termasuk dalam hal penataan hal perabot perpustakaan.

3.Aspek estetika

Keindahan penataan ruang perpustakaan salah satunya bisa melalui penataan perabot yang digunakan. Jika perpustakaan bersih dan penataannya serasi maka pemakai akan merasa ingin berlama-lama berada di perpustakaan.

4.Aspek keamanan bahan pustaka

Keamanan bahan pustaka bisa dikelompokkan dalam 2 bagian. Pertama faktor keamanan bahan pustaka dari akibat kerusakan secara alamiah, dan kedua adalah faktor kerusakan/kehilangan bahan pustaka karena faktor manusia. Penataan ruang harus memperhatikan kedua faktor tersebut. Hindari masuknya sinar matahari secara langsung dengan intensitas cahaya yang tinggi, apalagi sampai mengenai koleksi bahan pustaka. Penataan ruang yang fungsional mampu menciptakan pengawasan terhadap keamanan koleksi perpustakaan secara tidak langsung dari kerusakan faktor manusia.

Penataan ruang perpustakaan sekolah juga memperhatikan beberapa hal antara lain penataan meja dan kursi, penerangan, warna dan udara. Berikut akan dibahas komponen-komponen tersebut.

Dalam perpustakaan sekolah, penataan meja dan kursi belajar yang baik dapat menimbulkan rasa nyaman, aman dan tenang bagi siswa. Penataan meja dan kursi ini diintegrasikan dengan tempat atau rak-rak buku. Perpustakaan sekolah juga hendaknya melakukan penataan meja dan kursi belajar untuk berbagai kepentingan yaitu kepentingan belajar perseorangan, diskusi kelompok dan kepentingan belajar kelompok.

Meja dan kursi untuk kepentingan belajar kelompok sebaiknya ditata dan ditempatkan di ruang-ruang tersendiri, yaitu ruang belajar kelompok. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang mengganggu orang lain yang sedang belajar secara perorangan. Ruang belajar kelompok bisa dipakai 3 – 15 orang. Jika tidak ada ruang untuk belajar kelompok, maka penempatan meja dan kursi untuk belajar kelompok ditempatkan agak jauh dari tempat belajar perorangan atau dapat dibatasi dengan rak-rak buku.(Bafadal, 2004:47)

Perpustakaan sekolah juga membutuhkan penerangan agar pustakawan dan petugas perpustakaan dapat menjalankan tugasnya dengan baik, efisien dan tanpa mengalami kesalahan. Pengunjung perpustakaan juga memerlukan penerangan untuk membaca buku. Penerangan yang baik adalah penerangan yang tidak melelahkan mata, tidak mengurangi daya penglihatan dan tidak menyilaukan. Tata ruang perpustakaan yang baik tidak akan menimbulkan ruangan menjadi gelap atau terlalu terang. Penerangan yang dipakai untuk perpustakaan sekolah dapat menggunakan penerangan buatan manusia dan penerangan alami.

1.Penerangan buatan manusia

Penerangan buatan manusia bisa berupa sinar lampu. Hal yang perlu diperhatikan adalah sinar lampu yang dipakai jangan bersifat langsung karena terlalu terang dan menimbulkan bayangan. Sebaiknya sinarnya bersifat tidak langsung, sinar tersebut diatur sedemikian rupa sehingga sinar lampu memancar ke arah langit-langit ruang perpustakaan sekolah dan oleh langit-langit dipantulkan kembali ke arah permukaan ruang perpustakaan sekolah.

2.Penerangan alami

Penerangan alami berupa sinar matahari, sehingga meja, kursi dan rak buku harus diatur sedemikian rupa agar ruang perpustakaan memperoleh penerangan sinar matahari yang baik. (Bafadal, 2004:48)

Penataan ruang perpustakaan juga harus memperhatikan warna dinding ruangan. Warna yang tepat akan mencegah kesilauan, sebab warna yang disoroti oleh sinar akan memantulkan kembali sinar tersebut sesuai dengan daya pantulnya. Oleh karena itu warna yang digunakan jangan terlalu terang atau gelap. Gunakan warna yang bersifat sejuk.

Penataan ruang perpustakaan juga harus memperhatikan udara agar pustakawan, petugas perpustakaan dan pengunjung dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik, tenang dan nyaman. Udara tidak boleh panas atau lembab. Udara yang panas akan membuat orang menjadi ngantuk dan cepat lelah sedangkan udara yang lembab akan menekan perkembangan kreativitas berpikir dan menimbulkan jamur yang dapat merusak buku. Cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal ini adalah menggunakan alat-alat modern seperti AC. Jika sekolah tidak mampu membelinya, maka cara yang dapat dilakukan adalah menata ruang perpustakaan sekolah sedemikian rupa sehingga lubang udara atau jendela tidak tertutup.

 DAFTAR PUSTAKA

Kosasih, Aa. 2009. Tata Ruang, Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah, (Online), (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/karsasih/Tata%20Ruang,%20Perabot%20Dan%20Perlengkapan.pdf, diakses 16 Oktober 2012)

Citra. 2012. Ruang dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah, (Online), (http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/03/modul-kuliah-perpustakaan-sekolah-bab-3.html, diakses 16 Oktober 2012)

Kirana, Dinni. 2012. Sistem Tata Ruang Perpustakaan, (Online), (http://dinnikirana.blogspot.com/2012/02/sistem-tata-ruang-perpustakaan.html, diakses 16 Oktober 2012)

MANAJEMEN TENAGA PENDIDIK DAN KEPENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Tenaga pendidik dan kependidikan dalam proses pendidikan memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dipandang dari dimensi pendidikan, peranan pendidik dalam masyarakat Indonesia tetap dominan meskipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Begitu pun dengan tenaga kependidikan mereka bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

Sehubungan dengan tuntutan ke arah profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan, maka semakin dirasakannya desakan untuk peningkatan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan yang telah menjadi komitmen pendidikan nasional. Untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana mengelola pendidik dan tenaga kependidikan.

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 6, Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 5, tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

Pendidik akan berhadapan langsung dengan para peserta didik, namun ia tetap memerlukan dukungan dari para tenaga kependidikan lainnya, sehingga ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena pendidik akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya apabila berada dalam konteks yang hampa, tidak ada aturan yang jelas, tidak didukung sarana prasarana yang memadai, tidak dilengkapi dengan pelayanan dan sarana perpustakaan serta sumber belajar lain yang mendukung. Karena itulah pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran dan posisi yang sama penting dalam konteks penyelenggaraan pendidikan (pembelajaran). Karena itu pula, pada dasarnya baik pendidik maupun tenaga kependidikan memiliki peran dan tugas yang sama yaitu melaksanakan berbagai aktivitas yang berujung pada terciptanya kemudahan dan keberhasilan siswa dalam belajar.

2.2 Tugas Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Secara khusus tugas dan fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) didasarkan pada Undang-Undang No 14 Tahun 2007, yaitu sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 171 Pendidik mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. guru sebagai pendidik profesional mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

b. dosen sebagai pendidik profesional dan ilmuwan mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, pada jenjang pendidikan tinggi

c. konselor sebagai pendidik professional memberikan pelayanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi

d. pamong belajar sebagai pendidik professional mendidik, membimbing, mengajar, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, dan mengembangkan model program pembelajaran, alat pembelajaran, dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal

e. widyaiswara sebagai pendidik professional mendidik, mengajar, dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah

f. tutor sebagai pendidik professional memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal

g. instruktur sebagai pendidik professional memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan

h. fasilitator sebagai pendidik professional melatih dan menilai pada lembaga pendidikan dan pelatihan

i. pamong pendidikan anak usia dini sebagai pendidik profesional mengasuh, membimbing, melatih, menilai perkembangan anak usia dini pada kelompok bermain, penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis pada jalur pendidikan nonformal

j. guru pembimbing khusus sebagai pendidik profesional membimbing, mengajar, menilai, dan mengevaluasi peserta didik berkelainan pada satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan

k. nara sumber teknis sebagai pendidik profesional melatih keterampilan tertentu bagi peserta didik pada pendidikan kesetaraan.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 1, tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 173 Tenaga kependidikan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. pengelola satuan pendidikan mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal

b. penilik melakukan pemantauan, penilaian, dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal

c. pengawas melakukan pemantauan, penilaian, dan pembinaan pada satuan pendidikan formal anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

d. peneliti melakukan penelitian di bidang pendidikan pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikanmenengah, dan pendidikan tinggi, serta pendidikan nonformal

e. pengembang atau perekayasa melakukan pengembangan atau perekayasaan di bidang pendidikan pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, serta pendidikan nonformal

f. tenaga perpustakaan melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan

g. tenaga laboratorium membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan

h. teknisi sumber belajar mempersiapkan, merawat, memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan

i. tenaga administrasi menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan

j. psikolog memberikan pelayanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini

k. pekerja sosial pendidikan memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus atau pendidikan layanan khusus

l. terapis memberikan pelayanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus

m. tenaga kebersihan dan keamanan memberikan pelayanan kebersihan lingkungan

2.3 Manajemen Tenaga Pendidik dan Kependidikan.

Manajemen tenaga pendidik dan kependidikan adalah aktivitas yang harus dilakukan mulai dari tenaga pendidik dan kependidikan masuk ke dalam organisasi pendidikan sampai akhirnya berhenti.

2.4 Tujuan Manajemen Tenaga Pendidik Dan Kependidikan

Tujuan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan secara umum adalah:

1. Memungkinkan organisasi mendapatkan dan mempertahankan tenaga kerja yang cakap, dapat dipercaya, dan memiliki motivasi tinggi

2. Meningkatkan dan memperbaiki kapasitas yang dimiliki oleh karyawan

3. Mengembangkan sistem kerja dengan kinerja tinggi yang meliputi prosedur perekrutan dan seleksi yang ketat, sistem kompensasi yang disesuaikan dengan kinerja, pengembangan manajemen serta aktivitas pelatihan yang terkait dengan kebutuhan organisasi dan individu

4. Mengembangkan praktik manajemen dengan komitmen tinggi yang menyadari bahwa tenaga pendidik dan kependidikan merupakan stakeholder internal yang berharga serta membantu mengembangkan iklim kerjasama dan kepercayaan bersama

5. Menciptakan iklim kerja yang harmonis.

2.5 Badan yang Mengatur Tenaga Pendidik dan Kependidikan

Di Indonesia badan yang memiliki wewenang untuk mengatur dan mengelola tenaga pendidik dan kependidikan adalah Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Kependidikan (PMPTK).

Berdasarkan Permendiknas No. 8 Tahun 2005 tugas Ditjen PMPTK mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan standarisasi teknis di bidang peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.

Fungsi Ditjen PMPTK:

1. Penyiapan perumusan kebijakan departemen di bidang peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

2. Pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

3. Penyusunan standar, norma, pedoman, criteria dan prosedur di bidang peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

2.6 Aktivitas Manajemen Tenaga Pendidik dan Kependidikan

1. Perencanaan

Perencanaan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan adalah pengembangan dan strategi dan penyusunan tenaga pendidik dan kependidikan (Sumber Daya Manusia/SDM) yang komprehensif guna memenuhi kebutuhan organisasi di masa depan. Perencanaan SDM merupakan awal dari pelaksanaan fungsi manajemen SDM. Walaupun merupakan langkah awal yang harus dilaksanakan, perencanaan ini seringkali tidak diperhatikan dengan seksama. Dengan melakukan perencanaan ini, segala fungsi SDM dapat dilaksankan dengan efektif dan efisien.

Di negara kita status kepegawaian tenaga pendidik da¬n kependidikan terbagi 2 yaitu berstatus PNS dan Non PNS dan berada bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen ¬Agama.

Penyusunan kebutuhan tenaga dilakukan untuk menjawab pertanyaan pegawai yang dibutuhkan dan mengetahui tentang jumlah tenaga dan kualifikasi yang diperlukan pada setiap unit organisasi baik segi kuantitas maupun kualitas memenuhi kebutuhan organisasi. Penyusunan analisis kebutuhan tenaga dilakukan setiap akhir tahun anggaran untuk menghitung kebutuhan tenaga tahun berikutnya.

Tujuan analisis kebutuhan adalah

1. Pemerataan keseimbangan proporsi jumlah tenaga kependidikan dengan pertumbuhan jumlah peserta didik

2. Mengetahui kecenderungan tenaga-tenaga yang akan memasuki usia pensiun

3. Mengetahui proyeksi kebutuhan sumber daya tenaga yang diperlukan.

Ramalan atau prediksi didasarkan atas informasi tentang macam dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh lembaga kerja agar dapat mencapai tujuannya.

Ada beberapa model yang digunakan untuk meramalkan kebutuhan tenaga menurut Manulang(2000:30) di antaranya

1. Metode status Quo

Metode ini menganggap bahwa persediaan pegawai yang ada sudah cukup untuk satu masa tertentu karena perbandingan pegawai tetap dan tidak berubah. Perencanaan tenaga kerja hanya mencakup langkah-langkah untuk mengganti beberapa orang pegawai baik yang dipromosikan maupun yang keluar karena berbagai alasan.

2. Metode petunjuk praktis

Metode petunjuk praktis digunakan sebagai dasar untuk meramal kebutuhan akan tenaga kependidikan yang diperbandingkan dengan jumlah peserta didik.

3. Metode peramalan unit

Peramalan tenaga kerja dibuat berdasarkan masukan dari unit-unit pelaksana tentang jenis dan frekuensi pekerjaan yang dilakukan di setiap unit.

2. Seleksi

“Selection” atau seleksi didefinisikan sebagai suatu proses pergambilan keputusan dimana individu dipilih untuk mengisi suatu jabatan yang didasarkan pada penilaian terhadap seberapa besar karakteristik individu yang bersangkutan, sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh jabatan tersebut. Proses seleksi itu penting dan sangat menentukan keberhasilan roda organisasi.

Tujuan utama dari seleksi adalah untuk:

1. Mengisi kekosongan jabatan dengan personil yang memenuhi persyaratan yang ditentukan dan dinilai mampu dalam:

a. Menjalankan tugas dalam jabatan tersebut,

b. Mendapatkan kepuasan dalam jabatannya sehingga dapat bertahan dalam sistem,

c. Menjadi kontributor efektif bagi pencapaian tujuan dalam sistem,

d. Memiliki motivasi untuk mengembangkan diri.

2. Membantu meminimalisasi pemborosan waktu, usaha, dan biaya yang harus diinvestasikan bagi pengembangan pendidikan para pegawai.

Dalam proses seleksi pegawai perlu ditetapkan suatu dasar yang rasional dan seragam serta diterapkan secara tegas sehingga akan memberikan keyakinan kepada para pelamar, masyarakat, dan pegawai sekolah bahwa kemampuan merupakan faktor kunci yang menentukan diterima atau ditolaknya seorang calon. Dengan demikian, dewan pendidikan perlu dibekali dengan suatu instrumen pengawasan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas para pegawai; dan para pejabat yang memegang tanggung jawab tertinggi dalam seleksi seluruh pegawai harus memiliki suatu dasar yang kuat dalam menilai proses seleksi tersebut.

Sebelum mempertimbangkan berbagai langkah seleksi, perlu disadari adanya berbagai faktor lingkungan internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses seleksi tersebut. Selain kesadaran terhadap adanya elemen-elemen lingkungan, para pengelola sekolah juga dapat berusaha meningkatkan hasil yang diperoleh dari seleksi dengan memahami teknologi seleksi (pemahaman, peralatan, dan cara-cara yang dipergunakan dalam seleksi); kompleksitas, kekuatan, serta keterbatasannya, dan pengaruhnya terhadap faktor-faktor organisasional lainnya.

Castetter mengemukakan ilustrasi rangkaian faktor-faktor seleksi SDM yang meliputi interaksi antar faktor situasional proses seleksi, sebagai berikut:

Pihak yang terlibat dalam proses seleksi SDM, (apakah dewan pendidikan, pegawai pusat, perwakilan unit kerja, perwakilan gabungan, atau perwakilan masyrakat).

Faktor eksternal dan internal yang mempengaruhinya (apakah faktor eksternal yang terdiri dari kebijakan kantor tenaga kerja, kondisi pasar, arena politik, demografi, dan budaya masyarakat, atau faktor internal yang terdiri dari hubungan sistem, stabilitas dewan sekolah, pegawai, dan pengawasan, serta budaya sistem).

Alat prediksi seleksi yang digunakan (apakah informasi latar belakang, riwayat kerja, kondisi fisik, kemampuan yang teruji, jenis personalitas, referensi kepercayaan, atau profesionalisme).

Alat prediksi penilaian yang digunakan (apakah formulir lamaran, pengecekan referensi, wawancara, tes tertulis, tes kesehatan, tes kemampuan).

Posisi kerja yang ditawarkan (apakah guru kelas, personal pendidikan khusus, spesialis profesional, administratur atau supervisor).

Dalam proses seleksi, kelompok pelamar yang terdiri dari para pengajar profesional, pengawas administrasi profesional, pelaksana teknis profesional, dan tenaga pendukung lainnya harus melalui tiga tahapan proses, yaitu:

1. Pra Seleksi

Melibatkan kebijakan dan penetapan prosedur seleksi. Inti dari tahap pra seleksi adalah bahwa suatu sistem keputusan yang dijabarkan dalam bentuk prosedur dan kebijakan sistem dapat membantu memfokuskan upaya organisasi dalam mencapai tujuan seleksi.

Terdapat dua tugas utama pengujian dalam tahap pra seleksi, yaitu:

1. Pengembangan Kebijakan Seleksi

Dasar pengembangan sistem rencana gabungan dalam seleksi personal dimulai dari dewan pendidikan. Kebijakan dewan mengidentifikasikan kewenangan dewan berkaitan dengan seleksi, dan kebijakan tersebut dipergunakan sebagai pedoman umum dalam proses seleksi, pendekatan terhadap kebijakan seleksi adalah dengan menghubungkan kebijakan umum tentang sumberdaya manusia dengan kebijakan seleksi.

2. Keputusan Prosedur Pra seleksi

Kerangka pengembangan keputusan prosedur pra seleksi, meliputi:

1. Hukum dan perundang-undangan seleksi; upaya meminimalisasi permasalahan hukum yang berkaitan dengan aktivitas seleksi.

2. Komponen keputusan seleksi, yaitu pembentukan persyaratan jabatan dan persyaratan personal.

3. Kriteria efektivitas keputusan seleksi, yaitu mengembangkan ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai prediktor kinerja atau keberhasilan (performance predictors or success).

4. Prediktor/alat untuk memprediksi keberhasilan keputusan seleksi, seperti: wawancara, biodata formulir lamaran, wawancara lanjutan, pengujian personal.

2. Seleksi

Merupakan pengajuan seleksi dan implementasi aturan yang ditetapkan pada tahap satu. Proses seleksi difokuskan pada pertanyaan sejauh mana kecocokan antara pelamar dan segala kualitasnya dengan tuntutan-tuntutan jabatan.

Sebagai konsekuensinya, penting dilakukan penyelidikan referensi, dan latar belakang mereka yang lolos proses penyaringan awal. Semakin penting jabatan yang dilamar dalam organisasi, semakin berat/rumit penyelidikan yang seharusnya dilakukan.

3. Pasca Seleksi

Tahap dimana terjadi penolakan dan penerimaan pelamar yang melibatkan daftar kemampuan pelamar, bagian personalia, pembuatan kontrak dan penempatan pegawai.

Setelah mengevaluasi para pelamar suatu jabatan, tahap berikutnya adalah membuat keputusan individual mengenai setiap pelamar berdasarkan data pelamar dan pertimbangan efektivitas pelamar untuk melakukan pekerjaannya. Selain itu, perlu juga dibuat keputusan tentang batasan pekerjaan yang seharusnya dilaksanakan. Keputusan seleksi dilaksanakan dengan sistem yang memutuskan untuk menerima atau menolak pelamar, atau sebaliknya, pelamar yang mengambil keputusan ini.

3. Manajemen Kinerja

Manajemen kinerja adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus berkaitan dengan fungsi-fungsi manajerial kerja. Menurut Achmad S Ruky (2001:5) menyatakan bahwa sebuah program manajemen kinerja berkaitan dengan usaha, kegiatan atau program yang di prakarsai dan dilaksanakan oleh pimpinan organisasi untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan prestasi karyawan. Karena program ini mencantumkan kata management, seluruh kegiatan yang dilakukan dalam sebuah proses management harus terjadi, di mulai dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang ingin di capai, kemudian tahap pembuatan rencana, pengorganisasian, penggerakan/pengarahan dan akhirnya evaluasi atas hasilnya.

Secara teknis program ini memang harus di mulai dengan menetapkan tujuan dan sasaran yaitu kinerja dalam bentuk apa dan yang seperti bagaimana yang ingin di capai. Karena yang menjadi objek adalah kinerja manusia, maka bentuk yang paling umum tentunya adalah kinerja dalam bentuk produktivitas sumber daya manusia.

Program performance management sebenarnya mempunyai ruang lingkup yang lebih besar. Bila program ini di terapkan, ia bersifat menyeluruh atau menggarap semua bagian/fungsi dari sebuah organisasi (organization Wide). Program ini akan menjamah semua elemen, unsur atau input yang di daya gunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut, bukan hanya manusia. Elemen-elemen tersebut adalah teknologi (peralatan, metode kerja) yang di gunakan, kualitas dari input ( termasuk material), kualitas lingkungan fisik(kesehatan kerja, lay-out teempat kerja dan kebersihan), iklim dan budaya organisasi (termasuk supervisi kepemimpinan) dan sistern kompensesi imbalan. Kegiatan dengan ruang lingkup seperti itu akan merupakan sebuah proyek besar dan melibatkan hampir semua orang. Dan ditangani langsung oleh pimpinan puncak organisasi.

Bila manajemen kinerja di pergunakan dengan tepat, banyak sekali keuntungan yang dapat di peroleh. Menurut Robert bacal (2002:6) ada beberapa keuntungan manajemen kinerja yaitu:

1. Bagi pemimpin; mengurangi keterlibatannya dalam manajemen mikro, menghemat waktu dengan membantu para karyawan mengambil keputusan sendiri dengan memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan serta pemahaman yang di perlukan, mengurangi kesalahfahaman yang menghabiskan waktu di antara para staf tentang siapa yang bertanggung jawab atas apa, mengurangi frekuensi situasi dimana para pemimpin tidak memiliki informasi pada saat membutuhkannya.

2. Bagi karyawan; memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai pekerjaan dan tanggung jawab mereka

3. Bagi organisasi; organisasi akan bekerja lebih efektif bila tujuan-tujuan organisasi, unit-unit kerja yang lebih kecil serta tanggung jawab semua karyawa semuanya terhubungkan.

4. Pemberian Kompensasi

Kompensasi adalah balas jasa yang diberikan organisasi kepada pegawai, yang dapat dinilai dengan uang dan mempunyai kecenderungan di berikan secara tetap. Pamberian kompensasi, selain dalam bentuk gaji, dapat juga berupa tunjangan, fasilitas perumahan, kendaraan dan lain-lain.

Pada umumnya program kompensasi atau balas jasa bertujuan untuk kepentingan organisasi, karyawan dan pemerintah. Supaya tujuan tercapai memberikan kepuasan bagi semua pihak hendaknya program pemberian kompensasi didasarkan pada prinsip adil dan wajar.

Peterson dan plowman (dalam melayu;2003:120) orang mau bekerja sama karena hal-hal berikut ini:

a. The Desire To life, artinya keinginan untuk hidup merupakan keinginan utama setiap orang. Manusia bekerja untuk mendapatkan makan dan makan untuk melanjutkan hidupnya.

b. The Desire For Possesion, artinya keinginan untuk memiliki sesuatu merupakan keinginan manusia yang ke dua ini merupakan salah satu sebab mengapa orang mau bekerja.

c. The Desire For power, artinya keinginan akan kekuasaan merupakan keinginan selangkah di atas keinginan untuk memiliki, mendorong mau bekerja.

d. The Desire For Recognition, artinya keinginan akan pengakuan merupakan jenis terakhir dari kebutuhan dan juga mendorong orang untuk bekerja.

Tujuan pemberian kompensasi antara lain adalah sebagai ikatan kerja sama, kepuasan kerja, motivasi, stabilitas karyawan serta disiplin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi adalah:

1. Produktivitas kerja karyawan

2. Pemerintah dan undang-undangnya

3. Biaya hidup/ cost of living

4. Posisi jabatan karyawan

5. Pendidikan dan pengalaman pekerjaan

6. Kondisi perekonomian nasional

7. Jenis dan sifat pekerjaan

Bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil pemerintah telah mengatur pemberian kompensasi ini dengan di keluarkannya undang-undang nomor 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian dan peraturan pemerintah no 1 tahun 2006 tentang penyesuaian gaji pokok PNS, PP no 3 tahun 2006 tentang tunjangan jabatan struktural, PP 12 tahun 2006 tentang tunjangan umum bagi pegawai negeri sipil, PP no 25 tahun 2006 tentang pemberian gaji/pensiun/tunjangan bulan ke 13 kepada pegawai negeri, pejabat negara, dan penerima pensiun/tunjangan.

Dari beberapa aturan tersebut, selain gaji pokok yang di terima oleh tenaga pendidik dan kependidikan yang berstatus PNS yang di berikan tunjangan antara lain:

1. Tunjangan jabatan struktural adalah tunjangan jabatan yang di berikan kepada PNS yang di angkat dan di tugaskansecara penuh dalam jabatan struktural sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku

2. Tunjangan jabatan fungsional adalah tunjangan jabatan yang di berikan kepada PNS yang di angkat dan di tugaskan secara penuh dalam jabatan fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.

3. Tunjangan keluarga, kepada suami/isteri sebesar 10 % (sepuluh persen) dari gaji pokok dengan ketentuan apabila keduanya berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil maka tunjangannya hanya diberikan kepada yang mempunyai gaji pokok yang lebih tinggi, di samping itu juga anaknya sebesar 2,5 % bagi sebanyak-banyaknya 2 orang anak yaitu anak yang berumur kurang dari 25 tahun yang masih menjadi tanggungan.

Bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang berstatus sebagai non PNS pemberian kompensasi ini di dasarkan pada kebijakan lembaga/yayasan.

5. Pembinaan Pegawai

Pembinaan atau pengembangan pegawai adalah usaha yang dijalankan untuk memajukan dan meningkatkan mutu tenaga pendidik dan kependidikan.

Cara-cara pembinaan:

1. Melalui usaha sendiri misanya dengan belajar melalui buku, majalah atau kursus

2. Melalui kelompok profesi misalnya kelompok bidang studi sejenis seperti ISMAPI dan PGRI

3. Lokakarya, seminar, rapat kerja dan sebagainya

4. Promosi diberikan jabatan dengan beban dan tanggung jawab yang lebih besar dari jabatan semula.

Dalam kepegawaian, promosi diartikan sebagai kenaikan pangkat yang merupakan salah satu jenis usaha peningkatan dan pembinaan. Dengan tegas dijelaskan bahwa pembinaan pegawai didasarkan pada dua jenis system yaitu system karier dan system prestasi kerja.

1. Sistem Karier

System karier dalah suatu system kepegawaian, di mana untuk pengangkatan pertama didasarkan pada kecakapan yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengembangannya lebih lanjut di dasarkan pada masa kerja, pengalaman, kesetiaan, pengabdian dan syarat obyektif lain. System karier di bagi menjadi dua yaitu:

1. System karier terbuka

Untuk menduduki lowongan jabatan dalam suatu unit organisasi terbuka bagi siapa saja asalkan mempunyai kecakapan dan pengalaman yang diperlukan untuk jabatan lowongan itu.

2. System karier tertutup

Untuk menduduki suatu lowongan jabatan hanya dapat di duduki oleh pegawai yang telah ada dalam organisasi, tidak boleh di duduki oleh orang lain dari luar.

2. Sistem Prestasi Kerja

System prestasi kerja adalah suatu system kepegawaian di mana untuk pengangkatan seseorang dalam suatu jabatan di dasarkan pada kecakapan dan prestasi yang di capai oleh orang itu. Dalam pengangkatan jabatan, kenaikan gaji dan pangkat harus lulus ujian masa kerja kurang di perhatikan dalam system prestasi kerja ini.

6. Pemberhentian

Pemberhentian adalah fungsi operatif terakhir manajemen SDM. Istilah pemberhentian sinonim dengan separation, pemisahan atau pemutusan hubungan tenaga kerja karyawan dari suatu organisasi perusahaan.

Pemberhentian tenaga kependidikan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Pendidikan:

1. Pemberhentian dengan hormat tenaga kependidikan atas dasar:

1. Permohonan sendiri

2. Meninggal dunia

3. Mencapai batas usia pensiun dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang bersangkutan

2. Pemberhentian tidak dengan hormat tenaga kependidikan atas dasar:

1. Hukuman jabatan

2. Akibat pidana penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum.

Tata cara pemberhentian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang bersangkutan.

 

PENUTUP

1. Simpulan

Tenaga pendidik dan kependidikan dalam proses pendidikan memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan lain-lain yang di inginkan. Di pandang dari dimensi pembelajaran, peranan pendidik dalam masyarakat Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat di manfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat.

Manajemen tenaga pendidik dan kependidikan adalah aktifitas yang harus di lakukan mulai dari tenaga pendidik dan kependidikan itu masuk kedalam organisasi pendidikan sampai akhirnya berhenti melalui proses perencanaan SDM, seleksi, penempatan, pemberian kompensasi, penghargaan, pendidikan dan latihan/pengembangan dan pemberhentian.

Tujuan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan berbeda dengan manajemen sumber daya manusia pada konteks bisnis, di dunia pendidikan tujuan manajemen SDM lebih mengarah pada pembangunan pendidikan yang bermutu, membentuk SDM yang handal, produktif, kreati, dan berprestasi.

Secara garis besar aktivitas manajemen tenaga pendidik dan kependidikan adalah:

1. Merencanakan kebutuhan pegawai

2. Menyeleksi calon pegawai

3. Penempatan sesuai dengan formasi

4. Merangsang gairah kerja dengan menciptakan kondisi atau suasana kerja yang baik

5. Memelihara kesejahteraan pegawai atau pemberian kompensasi

6. Meningkatkan mutu pegawai baik melalui pembinaan

7. Mengadakan penilaian terhadap prestasi kerja pegawai untuk memperoleh data dalam rangka peningkatan pangkat pegawai

8. Menata pemutusan hubungan kerja dengan pegawai.

2. Saran

Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dimulai dari penerapan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan dengan baik. Jika tenaga pendidik dan kependidikan dalam sebuah instansi itu baik, maka dapat meningkatkan kinerja dan mutu dari organisasi tersebut.

Untuk mendapatkan tenaga pendidik dan kependidikan yang baik diperlukan data-data yang akurat dari calon pegawai agar dapat meminimalisir kecurangan-kecurangan dalam perekrutannya. Selain itu diperlukan pengawasan yang ketat dalam pelaksanaannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikuntoi, Suharsimi dan Yuliana, Lia.2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media

http:// dhanay.co.cc/2010/11/pengertian-pendidik-dan-tenaga.html

http://dikpora-ds.org/etos-kerja

http://elfalasy88.wordpress.com/2010/11/30/manajemen-tenaga-pendidik-dan-tenaga-kependidikan/

http://ian43.wordpress.com/2010/06/13/tugas-dan-fungsi-pendidik/

http:// ilmupendidikan.net/2008/12/04/optimalisasi-tugas-pendidik-dan-tenaga-kependidikan-melalui-pemanfaatan-teknologi-pembelajaran.php

http//mtsaahgl.blogspot.com

http//one.indoskripsi.com

http//pakguruonline.pendidikan.net

http:// slideshare.net/abeyow/etika-profesi-pendidik-dan-tenaga-kependidikan

http://wakhinuddin.wordpress.com/2010/01/23/pengertian-pendidik-dan-tenaga-kependidikan/

Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Suhardan, Dadang , dkk. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Undang-undang Pegawai Negeri Sipil. Bandung: Fokusmedia

 

 

 

 

PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI DI BIDANG INDUSTRI

PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu tujuan dari pada pembangunan, karena pembangunan merupakan suatu usaha menjadikan keadaan menjadi lebih baik dari pada keadaan sebelumnya. Kondisi yang lebih baik ini  tidak hanya ditandai oleh adanya pembangunan fisik saja tetapi pembangunan di bidang spiritual merupakan factor utama dalam memaknai arti pembangunan, untuk itulah peranan pendidikan merupakan factor utama yang harus kita perhatikan.

Pembangunan ekonomi ditandai dengan tingkat kesejahteraan yang makin baik, tingkat pendapatan masyarakat dan secara akumulatif meningkatnya pendapatan nasional. Salah satu bidang yang memberi pengaruh besar terhadap meningkatnya pendapatan nasional adalah bidang industri. Dalam hal ini peran pendidikan juga turut serta dalam memajukan bidang industri. Pendidikan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesehatan, ketarampilan, pengetahuan, dan  kemampuan individual sehingga  dapat bekerja lebih produktif. Bidang industri membutuhkan pendidikan untuk kebutuhan sumber daya manusia yang akan menjadi penggerak industri. Sumber daya manusia yang dicetak melalui pendidikan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dunia industri, mempunyai kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dan mampu lebih meningkatkan daya saing industri dalam era globalisasi.

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan

Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal I, pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai  proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Ki Hajar Dewantara (dalam Syarif, t.t:3), pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dalam pengertian yang agak luas, Tardif (dalam Syah, 2010:10) mengartikan pendidikan sebagai seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan.

Sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana dalam mengembangkan kemampuan, mengubah sikap dan tingkah laku dalam rangka memberdayakan dan mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran.

Dengan demikian pendidikan perlu diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar mampu mandiri. Setiap anak didik perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti konsep, prinsip, kreativitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Inilah makna pendidikan yang harus senantiasa dipegangi oleh para pendidik, yaitu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

B.     Pengertian Investasi

Kata investasi merupakan kata adopsi dari bahasa inggris, yaitu investement. Kata invest sebagai kata dasar dari investment memiliki arti menanam. Menurut James C van Horn (1981), investasi adalah kegiatan yang dilangsungkan dengan memanfaatkan kas pada masa sekarang ini, dengan tujuan untuk menghasilkan barang di masa yang akan datang. Sedangkan Fitz Gerald (1978) mengartikan investasi sebagai aktifitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber yang dipakai untuk mengadakan modal barang pada saat sekarang ini. (http://id.shvoong.com/business-management/investing/2077045-pengertian-investasi-menurut-para-ahli/). Kedua definisi di atas mengarah pada investasi sebagai kegiatan untuk menanamkan modal pada masa sekarang ini agar pada masa yang akan datang dapat menghasilkan barang.

Dalam kamus istilah pasar modal dan keuangan investasi diartikan sebagai penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Sedangkan Mulyana (2009:2) mengartikan investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang.

Sehingga investasi adalah kegiatan menanamkan modal pada masa sekarang guna memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Modal disini dapat berupa uang, barang atau modal manusiawi yang dapat berupa keterampilan dan kecakapan.

Mengacu pada pengertian investasi yang dikemukakan di atas, jelas bahwa investasi tidak hanya menyangkut dengan uang sebagai modal utama untuk menghasilkan keuntungan di masa depan, tetapi juga mencakup SDM yang berupa keterampilan dan kecakapan yang dimiliki seseorang. Pengertian investasi ini sangat relevan dengan pendidikan, di mana dengan adanya pendidikan, keterampilan dan kecakapan seseorang akan semakin baik dan bertambah.

Setiap individu yang ingin berinventasi harus tahan mengorbankan dan mengesampingkan kesenangannya atau keinginannya untuk beberapa saat sesuai dengan kondisi yang ditempuhnya. Misalnya seseorang yang melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi berarti dia telah mengorbankan uang untuk biaya kuliah, waktu dan tenaga selama kuliah. Hasil investasi tersebut akan diperoleh ketika ia lulus kuliah dan menerimah ijazah yang dapat dipakai untuk melamar pekerjaan. Pekerjaan yang didapatkan dengan penghasilan yang sesuai ini merupakan salah satu bentuk keuntungan yang didapatkan dari investasi yang dilakukan pada masa lalu.

C.    Bidang Industri Dalam Era Globalisasi

Globalisasi membuat keterikatan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk interaksi lain. Globalisasi dalam perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, dan sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk – produk global ke dalam pasar domestik.

Globalisasi di bidang ekonomi ini juga akan mempengaruhi bidang industri. Globalisasi ini akan menghambat pertumbuhan sektor industri. Misalnya dalam perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini akan menyebabkan negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tinggi untuk memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang. Akibatnya sektor industri domestik akan sulit berkembang. Ketergantungan kepada industri yang dimiliki perusahaan multinasional pun semakin meningkat. Ketika SDM dalam negeri tidak dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang baik untuk mendobrak industri dan bersaing dengan kompetitor lain, maka industri dalam negeri akan berakhir dengan banyaknya industri yang dikuasai oleh asing.

Globalisasi juga mempengaruhi tenaga kerja. Perusahaan akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai dengan kelasnya seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional. Maka bisa dilihat bagaimana kesempatan kerja akan semakin berkurang. Tenaga kerja dalam negeri juga harus bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan. Dampaknya ketika SDM bangsa tidak mampu bersaing, maka pengangguran akan semakin memburuk, pendapatan nasional berkurang dan akan memberikan efek buruk pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara.

Maka cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal-hal di atas adalah mempersiapkan SDM yang handal, mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk bersaing dalam sektor industri dalam era globalisasi ini baik SDM sebagai pembangun/ pemilik industri atau sebagai tenaga kerja yang ahli dan profesional.

D.    Pendidikan Sebagai Investasi di Bidang Industri

Pendidikan memberikan kontribusi dalam bidang produksi sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat dilihat melalui dua pendekatan yaitu

1.Pendekatan mikro

Pada tingkat mikro, berbagai penelitian menunjukkan bahwa adanya kenaikan kesejahteraan yang terkait dengan tambahan tahun pendidikan, dengan tingkat pengembalian yang berbeda-beda dengan tingkat pendidikan. Dari sudut pandang ekonomi mikro, investasi sumber daya manusia dianggap sebagai salah satu penentu utama keberhasilan dalam dunia kerja dan investasi. Pendidikan menjadi sangat penting sebagai peluang terbesar untuk mengakses pasar tenaga kerja, serta kemajuan karier dan perbaikan status profesional, termasuk dalam hal pendapatan. Pendidikan juga merupakan kontributor penting bagi kemampuan teknologi dan perubahan teknis dalam industri.

2.Pendekatan makro

Pada tingkat makro, diyakini bahwa daya saing suatu negara dan produksinya tidak hanya tergantung pada tingkat akumulasi dan persediaan investasi dalam modal fisik, tapi juga investasi yang tertanam pada sumber daya manusia. Kita juga tidak dapat mengabaikan fakta penting lain: bentuk-bentuk investasi dalam pendidikan dan pelatihan, tidak hanya menentukan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, tetapi berdampak positif pada kesehatan, penurunan kejahatan dan kohesi sosial. Oleh karena itu, pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia berdampak sosial lebih besar selain  produktivitas di bidang  ekonomi. Semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja semakin tinggi produktivitas secara keseluruhan karena pekerja lebih terdidik cenderung untuk berinovasi, dan dengan demikian mempengaruhi hampir semua produktivitas. (http://djadja.wordpress.com).

Investasi dalam pendidikan untuk bidang industri akan meningkatkan ketrampilan, pengetahuan, dan kemampuan serta sikap tenaga kerja terdidik sebagai faktor penentu  untuk menjadi lebih produktif. Semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja semakin tinggi produktivitasnya. Produktivitas pekerja tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Produktivitas tenaga kerja merupakan  upaya meningkatkan kemampuan setiap waktu sehingga dapat mencapai kinerja yang lebih tinggi lagi. Produktivitas setiap individu tenaga kerja diukur dari hasil kerja fisik masing-masing pekerja secara perorangan dibandingkan dengan masukannya (waktu, biaya, dan tenaga) yang dipergunakan untuk menghasilkan output kerja tersebut.

Di lain pihak, produktivitas industri  itu sendiri sudah pasti memberikan keuntungan, baik terhadap modal maupun tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat produktivitas  industri semakin tinggi pula rata-rata gaji atau penghasilan pegawai, serta semakin tinggi pula kemungkinan perluasan usaha bagi industri yang  bersangkutan. Dengan temuan tersebut disebutkan pula bahwa  semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kerja semakin  besar produktivitasnya yang tercermin dalam penghasilannya. Artinya, tamatan jenjang pendidikan yang lebih tinggi menunjukkan tingkat produktivitas kerja riil yang lebih tinggi pula. (Sumiyati, t.t:1)

Jadi pendidikan sebagai investasi di bidang industri dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas. Pendidikan dalam hal ini akan menentukan kualitas SDM yang akan menjadi input tenaga kerja bagi sektor industri.

PENUTUP

Kesimpulan

1.      Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam mengembangkan kemampuan, mengubah sikap dan tingkah laku dalam rangka memberdayakan dan mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran.

2.      Investasi adalah kegiatan menanamkan modal pada masa sekarang guna memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Setiap individu yang ingin berinventasi harus tahan mengorbankan dan mengesampingkan kesenangannya atau keinginannya untuk beberapa saat sesuai dengan kondisi yang ditempuhnya.

3.      Globalisasi di bidang ekonomi ini juga akan mempengaruhi bidang industri. Globalisasi ini akan menghambat pertumbuhan sektor industri dalam negeri. Ketika SDM dalam negeri tidak dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang baik untuk mendobrak industri dan bersaing dengan kompetitor lain, maka industri dalam negeri akan berakhir dengan banyaknya industri yang dikuasai oleh asing. Selain itu tenaga kerja dalam negeri juga harus bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan.

4.      Pendidikan sebagai investasi di bidang industri dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas. Pendidikan dalam hal ini akan menentukan kualitas SDM yang akan menjadi input tenaga kerja bagi sektor industri. Semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja semakin tinggi produktivitas secara keseluruhan karena pekerja lebih terdidik cenderung untuk berinovasi, dan dengan demikian mempengaruhi hampir semua produktivitas. Dengan pendidikan tenaga kerja juga akan mempunyai kemampuan mengakses pasar tenaga kerja, serta kemajuan karier dan perbaikan status profesional, termasuk dalam hal pendapatan.

 

DAFTAR RUJUKAN 

Djaja. 2012. Pendidikan Sebagai Parameter Produksi dan Pengaruhnya dalam Model Pertumbuhan, (Online), (http://djadja.wordpress.com/2012/06/19/thinkedu-pendidikan-sebagai-parameter-produksi-dan-pengaruhnya-dalam-model-pertumbuhan/, diakses 17 Oktober 2012)

Huda, Nurul. 2008. Investasi Pasar Modal Syariah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mulyana, Deden. 2009. Pengertian Investasi, (Online), (http://deden08m.files.wordpress.com/2009/02/materi-1-pengertian-investasi.pdf, diakses 20 Oktober 2012)

Sumiyati, Sri. t.t. Deskripsi Mata Kuliah Ekonomi Pendidikan, (Online), (http://www.ut.ac.id/html/suplemen/peko4407/all.htm, diakses 17 Oktober 2012)

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Syarif, Roni. t.t. Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli, (Online), (http://www.scribd.com/doc/24676437/Definisi-Pendidikan-Menurut-Para-Ahli, diakses 20 Oktober 2012)

Tanpa Nama, 2010. Pengertian Investasi Menurut Para Ahli, (Online), (http://id.shvoong.com/business-management/investing/2077045-pengertian-investasi-menurut-para-ahli/, diakses 20 Oktober 2012)

UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

 

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

PENDAHULUAN

Di era globalisasi, kehadiran teknologi sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan baik ekonomi, pendidikan, pertahanan keamanan maupun bidang lainnya. Terlebih dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi yang selalu berkembang dan semakin canggih dengan penemuan-penemuan barunya baik dari ukuran, bentuk, kemampuan dan kecepatannya. Hal ini  membawa perubahan yang besar bagi kehidupan manusia. Manusia harus selalu update perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta berpikir lebih maju untuk menghadapi persaingan, memenuhi kebutuhan serta memudahkan manusia dalam mencari informasi maupun menerima informasi. Sehingga saat ini jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi.

Organisasi dalam bidang pendidikan yang merupakan organisasi non profit bidang pemerintahan misalnya sekolah juga memerlukan komunikasi dalam menjalankan roda organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut penelitian seorang pakar komunikasi(dalam Usman, 2009:419) menyimpulkan bahwa sekitar 75% – 90% waktu kerja digunakan pimpinan atau manajer untuk berkomunikasi. Komunikasi memang penting dilakukan untuk menyampaikan atau menerima informasi yang akan berguna sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan. Maka organisasi pendidikan hendaknya memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal dalam proses SIM sehingga akan memudahkan manajer dalam memperoleh informasi yang relevan dan dibutuhkan tanpa harus menghabiskan banyak waktu. Selain itu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan dalam mencapai tujuan pendidikan. Karena melalui pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan muncullah berbagai jenis kegiatan yang berbasis teknologi seperti e-learning, e-library dan sebagainya.

Oleh karena itu, penyusun mengangkat judul “Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Sistem Informasi Manajemen” dalam makalah ini. Adapun dalam makalah ini akan dibahas hal-hal pokok sebagai berikut: (a) pengertian teknologi informasi dan komunikasi; (b) teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen; (c) komunikasi data; (d) aplikasi komunikasi data; dan (e) komputerisasi sistem.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi

Teknologi Informasi dan Komunikasi terdiri dari dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Syam (Muhtadi, t.t:4) mendefinisikan teknologi informasi sebagai ilmu yang diperlukan untuk memanage informasi agar dapat ditelusuri kembali dengan mudah dan akurat. Sedangkan teknologi komunikasi menurut Mahmun (t.t:2)  mengatakan bahwa teknologi komunikasi adalah teknologi yang berkaitan dengan cara menyampaikan data dan informasi.

Menurut Martin (Zulfa, 2010:3), teknologi informasi dan komunikasi yaitu semua bentuk teknologi yang terlibat dalam pengumpulan, memanipulasi, komunikasi, presentasi dan menggunakan data (data yang ditransformasi menjadi informasi).

Maka dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah teknologi yang menggunakan komputer atau alat komunikasi lainnya untuk mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan atau mengirim informasi dengan mudah dan akurat.

B. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Sistem Informasi Manajemen

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memberikan peluang bagi dunia pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas serta mencapai tujuan pendidikan. Teknologi komunikasi dan informasi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk  mengumpulkan atau menyediakan informasi yang dibutuhkan organisasi dengan akurat dan tanpa menghabiskan banyak waktu sehingga lebih mempercepat kinerja organisasi. Sedangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) berguna bagi organisasi dalam menyediakan informasi-informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh pimpinan dalam pengambilan keputusan.

Maka pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen akan mendukung aliran informasi berjalan dengan cepat dan akurat. Kemudahan yang ada ini akan mengakibatkan SIM menjadi lebih efisien.

Contoh adanya sistem informasi akademik (SIAKAD) online yang telah diterapkan di banyak Perguruan Tinggi sangat membantu manajer, orang tua, peserta didik maupun karyawan (dosen, TU, dsb) dalam mengakses informasi sehubungan dengan informasi yang dibutuhkan mengenai akademik. Manajer dapat mengambil keputusan berdasarkan SIAKAD misalnya mengenai perkembangan rata-rata nilai mahasiswa. Ketika terjadi penurunan maka manajer dapat mengevaluasi penyebab-penyebabnya sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk memperbaiki kelemahan yang ada. Bagi orang tua, mereka dapat melihat perkembangan dan mendapatkan informasi mengenai kemajuan belajar anaknya setiap saat. Bagi peserta didik memperoleh kemudahan informasi mengenai perkuliahan. Dan bagi karyawan memudahkan pekerjaan mereka baik dalam input nilai maupun penyimpanan data-data nilai.

C. Komunikasi Data

Riyanto (2004:1) mendefinisikan komunikasi data adalah bagian dari telekomunikasi yang secara khusus berkenaan dengan transmisi atau pemindahan data dan informasi di antara komputer-komputer atau piranti lain dalam bentuk digital yang dikirimkan melalui media komunikasi data. Sedangkan Sutabri (2005:243) menyatakan bahwa komunikasi data merupakan gabungan dua teknik yaitu teknik telekomunikasi dan pengolahan data. Telekomunikasi berkaitan dengan penyaluran informasi dari satu titik ke titik lain. Pengolahan data merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan data.

Maka secara umum dapat disimpulkan bahwa komunikasi data adalah proses pengiriman informasi dari suatu titik ke titik lain dengan menggunakan kode tertentu melalui media komunikasi. Adapun tujuan dari komunikasi data menurut Sutabri(2005:244) antara lain:

  • Memungkinkan pengiriman data dalam jumlah yang besar secara efisien, tanpa kesalahan dan ekonomis dari satu tempat ke tempat yang lain.
  • Memungkinkan penggunaan sistem komputer dan peralatan pendukungnya dari jauh (remote computer use)
  • Memungkinkan penggunaan sistem komputer secara terpusat maupun secara tersebar sehingga mendukung manajemen dalam hal kontrol (baik sentralisasi maupun desentralisasi )
  • Mempermudah kemungkinan pengelolaan dan pengaturan data yang ada dalam berbagai macam sistem komputer
  • Mengurangi waktu untuk pengolahan data.
  • Mendapatkan data langsung dari sumbernya (mempertinggi kehandalan).
  • Mempercepat penyebarluasan informasi.

Hal-hal yang perlu diketahui dan diperhatikan dalam komunikasi data menurut Sutabri (2005:244) yaitu

1. Transmisi Komunikasi Data

Pada dasarnya dalam komunikasi data minimal mempunyai tiga elemen yaitu sumber data, saluran transmisi dan penerima. Saluran transmisi merupakan medium untuk membawa data dari sumber data ke penerima. Sedangkan saluran yang digunakan membawa data dari sumber data ke penerima disebut dengan kanal telekomunikasi. (Sutabri, 2005:244)

2. Perangkat keras komunikasi data

Perangkat keras komunikasi data sebenarnya terfokus pada peralatan komunikasinya saja. Akan tetapi, setiap pemakaian peralatan komunikasi data selalu membutuhkan tambahan peralatan yang digunakan untuk berinteraksi dengan manusia. Oleh karena itu, secara keseluruhan peralatan komunikasi data sering dibagi dua: “Data Communication Equipment” dan “Data Terminal Equipment”. Semua perangkat keras pada komunikasi data masuk dalam kedua pembagian ini. (Sutabri, 2005:250)

Data Communication Equipment (DCE) adalah peralatan-peralatan yang digunakan untuk komunikasi data dan berorientasi pada proses komunikasi itu sendiri. Contoh DCE adalah media komunikasi, modem, stasiun relay, kantor telepon, transponder (transmitter dan responder), dan lain sebagainya. Sedangkan Data Terminal Equipment (DTE) adalah peralatan-peralatan yang digunakan pada komunikasi data, akan tetapi lebih berorientasi pada interaksi pada pemakai dan bukan pada proses komunikasinnya. Karena fungsi DTE berada berada di ujung proses komunikasi, maka ada literature yang menyebut bahwa DTE sebagai Data Terminating Equipment. Contoh DTE adala komputer, terminal, konsentrator, multiplexer, dan lain sebagainya. (Sutabri, 2005:250)

  • Media Komunikasi

Bermacam-macam bentuk media yang dapat digunakan dalam proses komunikasi data. Di bawah ini akan dijelaskan tentang media dalam komunikasi data

  1. Kabel. Dalam bahasa inggris sering dipisahkan antara “Wire” dan “Cable”. Wire adalah bentuk kabel yang kecil, yakni kabel telepon baik yang twisted (terulir) dan untwisted (searah). Sedangkan Cable adalah bentuk kabel yang lebih besar, dalam hal ini adalah Coaxial.
  2. Fiber optic. Dengan bantuan cahaya, pulsa-pulsa kode dapat dikirim dari suatu tempat ke tempat lain. Fiber optic tergolong baru dalam kancahnya sebagai media komunikasi, tetapi perkembangannya sangat cepat karena beberapa keunggulan, seperti lebih andal untuk jarak jauh, lebih sulit untuk disadap, lebih cepat, lebih ringkas/kecil, dan lain sebagainya.
  3. Gelombang radio. Gelombang radio sering dibagi ke dalam beberapa kategori sesuai dengan frekuensi pancarannya. Gelombang radio yang sering digunakan untuk komunikasi data adalah gelombang microwave, gelombang radio biasa, dan satelit.
  • DCCU (data communication controller unit)

Didalam sistem komunikasi data, ada sistem yang mengatur hubungan dengan peralatan komunikasi data. Peralatan ini disebut DCCU (data communication controller unit). DCCU sering tidak merupakan bagian yang terpisah, melainkan bagian integral yang baku dari sistem komunikasi data sehingga tidak dapat diidentifikasi secara terpisah. Tugas DCCU adalah sebagai berikut :

  1. Membentuk antarmuka antara sistem input/output bus dan modem.
  2. Mengendalikan sinyal antarmuka modem dan konversi level sinyal agar sesuai dengan antarmuka.
  3. Mengubah data yang akan dikirim menjadi serial dan sebaliknya.
  4. Untuk peralatan sinkron terdapat buffer. Kendali berita antara 2 stasiun            dilakukan oleh DCCU (data communication controller unit)
  5. Mengatur error recovery dengan mekanisme retry.
  6. Melakukan konversi sandi bila perlu.
  7. Melakukan sinkronisasi karakter baik dengan cara start/stop maupun dengan karakter SYN.
  8. Melakukan BIT sinkronisasi untuk controller asinkron. Kadang controller asinkron juga dapat melakukannya dengan internal clock.
  9. Melakukan pengujian kesalahan (parity, longitudinal, atau BCC).
  10. Mengendalikan prosedur dengan melacak karakter transmisi control.
  • Terminal

Terminal merupakan alat yang melayani proses input/output dan merupakan penghubung antara manusia dengan mesin. Pemilihan terminal ditentukan oleh kebutuhan pada saat sekarang dan akan datang, misalnya karena adanya pertumbuhan. Pemilihan terminal merupakan keputusan yang penting karena pada terminal tergantung hubungan antara manusia dengan manusia. Dikenal beberapa macam terminal dasar, yaitu :

  1. Teletypewriter
  2. VDT/VDU (video display terminal/unit)
  3. Remote job entry terminal
  4. Transaction terminal
  5. Terminal cerdas (intelligent terminal)
  • Komputer

Komputer atau processor yang dibutuhkan untuk sistem komunikasi data agak berbeda dengan komputer untuk proses pengolahan data. Sebenarnya general purpses komputer dapat digunakan untuk komunikasi data, tetapi kurang efisien. Kemampuan tergantung juga pada perangkat keras yang disambungkannya. Banyak komputer dapat melayani kegiatan komunikasi data, asal saja perangkat keras dapat mengambil alih tugas yang kurang dapat dikerjakan secara efisien tersebut. Kebutuhan utama komputer untuk komunikasi data adalah mengolah data yang datang secara tepat dalam sistem “real time”. Ada tiga macam penggunaan central komputer, yaitu :

  1. Stand alone
  2. General purpose
  3. Front end
  • Multiplexer

Sistem komputer pada dasarnya bekerja dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kecepatan transmisi pada suatu hubungan data mungkin jauh lebih cepat dari pada kecepatan sebuah terminal. Bila hubungan data ini hanya digunakan oleh satu terminal, biaya operasi dibandingkan dengan data yang dikirimkan cukup tinggi. Sisten komputer tersebut bekerja tidak efisien karena banyak waktu yang terbuang untuk menunggu penerima siap menerima data berikutnya. Untuk efisien penggunaan saluran digunakan “multiplexing”.

Multiplexer bertugas mengirim data dari sejumlah terminal sekaligus. Ini berarti membagi link menjadi bagian yang masing-masing berisi informasi dari sumber yang terpisah. Dengan peralatan ini, beberapa penerima dihubungkan sekaligus ke sistem komputer dan pengiriman data akan dikirim secara bergiliran kepada masing-masing penerima. Ada dua macam multiplexer, yaitu frequency division multiplexing dan time divison multiplexing

Jadi, multiplexing adalah penggabungan dua sinyal atau lebih untuk disalurkan ke satu saluran komunikasi. Ada beberapa alasan/keuntungan penggunaan multiplexer, yaitu :

  1. Menghemat biaya penggunaan saluran komunikasi
  2. Memanfaatkan sumber daya (resources) seefisien mungkin
  3. Kapasitas terbatas dari saluran komunikasi digunakan semaksimal mungkin
  4. Karakteristik permintaan komunikasi pada umumnya memerlukan penyaluran data dari beberapa terminal ke titik yang sama.
  • Concentrator

Kadang sistem komunikasi data tumbuh demikian kompleksnya sehingga cukup bermanfaat penggunaan concentrator yang merupakan antarmuka sejumlah terminal dengan saluran ke komputer pusat. Concentrator ini menyerupai multiplexer. Akan tetapi pada multiplexer data yang diterima segera diteruskan ke tujuannya. Sedangkan concentrator akan mengumpulkan semua data yang diterimanya sampai batas tertentu dan kemudian baru disalurkan secara bersamaan ke tujuan.

Concentrator selain membebaskan saluran komunikasi dari lalu lintas yang tidak bermanfaat, juga membebaskan komputer dari semua kegiatan yang berhubungan dengan penyaluran berita tanpa kesalahan (error). Concentrator mempunyai processor yang khusus. Pengumpulan tidak saja mengkombinasikan saluran kecepatan rendah menjadi saluran berkecepaan tinggi, tetapi juga melakukan konversi data, kecepatan, meratakan traffic dan error control, yaitu segala usaha untuk memperbaiki daya guna dari komputer dan saluran komunikasi. Fungsi concentrator hamper sama dengan multiplexer. Perbedaannya, kalau multiplexer menggabungkan sinyal dari banyak sumber dan menyalurkannya sekaligus dari satu kanal komunikasi. Sedangkan Concentrator menampung sinyal dari beberapa sumber dan menyalurkannya melalui saluran komunikasi bila saluran tersebut bebas. Data ditampung dulu sebelum dikirim keluar. Cirri khas concentrator yang amat bermanfaat ialah kemampuan mendukung protocol yang mengikuti model OSI.

3. Protokol dan Arsitektur Jaringan

Tidak dapat disangkal lagi bahwa terdapat berbagai macam merek dan sistem komputer yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Oleh karena itu manusia ingin memunculkan usaha untuk memungkinkan suatu komputer berbicara dengan komputer lain baik yang sama maupun yang berbeda merek. Jelas usaha ini sangat menonjol di bidang networking. Dalam komunikasi data ada prosedur yang harus diikuti oleh dua buah atau lebih sistem komputer yang ingin saling berhubungan dan berkomunikasi. Prosedur ini disebut “protokol”. Secara umum protokol melaksanaan dua fungsi, yaitu :

  1. Membuat hubungan antara pengirim dan penerima.
  2. Menyalurkan informasi dengan keakuratan yang cukup tinggi.

Protokol ini pada awalnya didefinisikan sendiri oleh pabrik karena mereka saling tidak dapat atau sukar berhubungan. Untuk mengatasi masalah adanya berbagai macam protokol tersebut, ISO bekerja sama dengan organisasi lain seperti CCITT, EIA, DLL. Dalam usahanya mengembangkan protokol komunikasi data yang baru, digunakan suatu model. Model ini dikenal model OSI (Open System Interconections).

Model OSI ini menggunakan “Layers” atau “Level” untuk menentukan berbagai macam fungsi dan operasi sistem komunikasi data. Standar ini secara garis besar batasan suatu protokol untuk memudahkan dan memungkinkan setiap perusahaan membuat protokolnya sendiri secara terpisah. OSI mendefinisikan sistem sebagai himpunan dari satu atau lebih komputer beserta perangkat lunak, terminal, operator, proses, alat penyalur infornasi lainnya yang dapat melaksanakan pengolahan, dan penyalur informasi. Empat pengelompokan protokol dapat dituliskan dan keempat pengelompokan ini ekuivalen dengan empat layer pertama OSI.

4. Local Area Network (LAN)

Local area network berkaitan erat dengan komunikasi data, yaitu pertukaran informasi atau pertukaran data antara dua pihak yang masing-masing dapat saling mengerti maksud dan tujuan dari pihak lain. Berikut ini sekilas tentang keuntungan dan kerugian menggunakan LAN menurut Sutabri (2005:259).

Keuntungan LAN :

  1. Memungkinkan pemakaian sumberdaya secara bersama-sama
  2. Memungkinkan perbaikan untuk kerja yang lebih baik
  3. Memungkinkan pengiriman data yang lebih banyak dan kompleks serta pertukaran informasi yang lebih baik
  4. Meningkatkan produktifitas serta melindungi investasi yang ada.

Kerugian LAN :

  1.  Pembuatan instalasi jaringan tidak sederhana
  2.  Perlunya software khusus yang dirancang untuk multi user
  3.  Perlunya pengaturan data dan keamanan data di dalam network
  4.  Virus dapat menyebar ke seluruh jaringan.

5. Wide Area Network

Wide Area Network (WAN) atau sering juga disebut long distance network sebagai lawan dari local area network, menjelaskan tentang keberadaan sebuah jaringan yang lebih luas dari local area network (LAN). Wide area network (WAN) mencakup komunikasi LAN dengan LAN, komunikasi LAN dengan WAN, dan komunikasi WAN dengan WAN.

D.Aplikasi Komunikasi Data

Komunikasi data  sangat membantu sebuah organisasi dalam mencapai efisiensi kinerja. Adapun peran-peran komunikasi data yang menonjol adalah

  1. Pengumpulan data (data collection). Data dapat dikumpulkan dari beberapa tempat (remote station), disimpan dalam memory dari komputer dan pada waktu tertentu data tersebut daapat diolah.
  2. Tanya -jawab (Inquiry & Response). Pemakai mempunyai akses langsung ke program atau file. Data yang dikirimkan ke sistem komputer ini langsung diproses dan hasilnya segera dapat diberikan. Bilamana pemakai melakukan dialog dengan komputer maka sistem semacam ini disebut interactive. Contohnya aplikasi yang berhubungan dengan Point of Sales (Pembayaran di pertokoan). Pada aplikasi ini data segera diberikan kepada komputer dan hasil proses diperoleh dalam waktu yang singkat juga.
  3. Storage dan Retrieval. Data yang sebelumnya telah disimpan dalam komputer dapat diambil sewaktu-waktu oleh pihak yang berkepentingan.
  4. Time sharing. Sejumlah pemakai (user) dapat mengerjakan programnya bersama-sama atau tiap user diberikan kesempatan untuk bekerja selama jangka waktu tertentu yang tetap besarnya, setelah itu pemakai lain akan mendapatkan kesempatan. Misalnya teller terminal pada suatu bank. Ketika seorang nasabah datang ke bank tersebut untuk menyimpan uang atau mengambil uang, maka buku tabungannya ditempatkan pada terminal. Dan oleh operator pada terminal tersebut dimasukkan dalam komputer, kemudian data tersebut dikirim secara langsung ke pusat komputer, memprosesnya, menghitung jumlah uang seperti yang dikehendaki, dan mencetaknya pada buku tabungan tersebut untuk transaksi yang baru saja dilakukan.
  5. Real time data processing dan process control. Hasil proses dikehendaki siap dalam waktu yang sesuai dengan kepentingan proses tersebut (“real time”). Misalnya penumpang pesawat terbang dari suatu bandara atau agen tertentu dapat memesan tiket untuk suatu penerbangan tertentu dan mendapatkan hasilnya kurang dari 15 detik, hanya sekedar untuk mengetahui apakah masih ada tempat duduk di pesawat atau tidak. (Tanutama, t.t:6)

E. Komputerisasi Sistem

Komputerisasi sistem berbeda dengan sistem koputerisasi. Secara harfiah, komputerisasi sistem adalah unjuk kerja manusia di dalam sistem yang masih merupakan unsur yang memegang peranan penting (50%), selebihnya unjuk kerja tersebut dikerjakan oleh komputer/mesin (50%). Sebagai contoh, komputerisasi SIM, SIMAWA (Sistem Informasi Manajemen kemahasiswaan), sistem penggajian, komputerisasi KTP, dan lain sebagainya. Sedangkan sistem komputerisasi adalah unjuk kerja manusia hanya 10% saja sehingga manusia hanya berfungsi sebagai supervisi dalam hal ini, selebihnya unjuk kerja tersebut dikerjakan oleh mesin/komputer (90%). Sebagai contoh yaitu, ATM (Automatic Teller Machine), Assembling mobil, pengoreksian hasil ujian SNMPTN/UN, dan lain sebagainya. (Sutabri, 2005:262)

  1. Perangkat Keras. Sutabri (2005:262) menyatakan bahwa perangkat keras pada sistem komputer terdiri dari masukan (input), central processing unit (cpu), tempat penyimpanan (secondary memory), dan keluaran (output).
  2. Perangkat Lunak. Sutabri (2005:264) mengemukakan secara fungsinya perangkat lunak dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sistem software, programming language, dan application software.

 

PENUTUP

A. Simpulan

  1. Teknologi informasi dan komunikasi adalah teknologi yang menggunakan komputer atau alat komunikasi lainnya untuk mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan atau mengirim informasi dengan mudah dan akurat.
  2. Teknologi komunikasi dan informasi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk  mengumpulkan atau menyediakan informasi yang dibutuhkan organisasi dengan akurat dan tanpa menghabiskan banyak waktu sehingga lebih mempercepat kinerja organisasi. Sedangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) berguna bagi organisasi dalam menyediakan informasi-informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh pimpinan dalam pengambilan keputusan. Sehingga pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen akan mendukung aliran informasi berjalan dengan cepat dan akurat. Kemudahan yang ada ini akan mengakibatkan SIM menjadi lebih efisien.
  3. Komunikasi data adalah proses pengiriman informasi dari suatu titik ke titik lain dengan menggunakan kode tertentu melalui media komunikasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi data adalah transmisi data, perangkat keras yang diperlukan, serta protokol dan arsitektur jaringan.
  4. Komunikasi data sangat membantu sebuah organisasi dalam mencapai efisiensi kinerja. Peran – peran komunikasi data yang menonjol adalah pengumpulan data, tanya jawab, storage dan retrieval, time sharing dan real time data processing dan process control.
  5. Komputerisasi sistem adalah unjuk kerja manusia di dalam sistem yang masih merupakan unsur yang memegang peranan penting (50%), selebihnya unjuk kerja tersebut dikerjakan oleh komputer/mesin (50%). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam komputerisasi sistem yaitu perangkat keras, perangkat lunak yang akan digunakan dan personal operasi.

B. Saran

  1. Sebuah organisasi hendaknya mengaplikasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen sehingga kinerja organisasi dalam rangka pengumpulan, penyimpanan, pengolahan dan pemanggilan kembali akan lebih efisien.
  2. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen sebuah organisasi juga harus memperhitungkan kebutuhan dan kondisi organisasi baik dalam rangka pemilihan perangkat keras maupun perangkat lunak.
  3. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem informasi manajemen memang lebih menjamin tingkat keamanan data namun seorang pemimpin tetap harus waspada dan mempunyai back up data tersendiri.

DAFTAR RUJUKAN

Bachtiar, Adam Mukharil. 2010. Pendahuluan Komunikasi Data, (Online), (http://adfbipotter.files.wordpress.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-komunikasi-data.pdf, diakses 15 April 2012)

Lamsani, Missa. t.t. Transmisi Data, (Online), (http://missa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/6924/komdat2.pdf, diakses 15 April 2012)

Mahmun, M Thoha. t.t. Penggunaan Teknologi Informasi (TI) Dalam Pengelolaan Data Base Mahasiswa Pada Sistem Kredit Semester (SKS), (Online), (http://118.97.161.124/penelitian/penggunaan-TI_m.toha_mahmun.pdf, diakses 18 April 2012)

Mardiani, Eri. 2009. Transmisi, (Online), (http://ericute.wordpress.com/2009/04/14/pert-3-komdat-2/, diakses 15 April 2012)

Muhtadi, Ali. t.t. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Kualitas dan Efektifitas Pendidikan, (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132280878/8.%20Pemanfaatan%20TI%20untuk%20meningkatkan%20kualitas%20dan%20efektivitas%20pembelajaran.pdf, diakses 15 April 2012)

Mutaqin. t.t. Perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi, (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/A1%20MK%20Dasar%20Komputer.pdf, diakses 18 April 2012)

Riyanto, Muh Zaki. 2004. Komunikasi Data, (Online), (http://www.wahid.web.ugm.ac.id/paper/komunikasi_data.pdf, diakses 15 April 2012)

Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta:Andi

Ttanutama, Lukas. t.t. Garis Besar Komunikasi Data, (Online), (http://repository.binus.ac.id/content/H0515/H051582828.doc, diakses 15 April 2012)

Usman, Husaini. 2009. Manajemen:Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara

Yulrio. t.t. Pengantar Teknologi Informasi, (Online), http://siskom.untan.ac.id/admin/contents/userfiles/file/yulrio/pengantarTI/2-Pengantar%20Teknologi%20Informasi.pdf, diakses 15 April 2012)

Zulfa, Indana. 2010. Dampak TIK Terhadap Pendidikan, (Online), (http://images.mrheri.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/TZP4rwooC0EAAFcgTZs1/DAMPAK-TEKNOLOGI-INFORMASI-DAN-KOMUNIKASI-TERHADAP-PENDIDIKAN.pdf?key=mrheri:journal:199&nmid=429892772, diakses 15 April 2012)

PERENCANAAN DIKLAT

Perencanaan merupakan faktor penting dalam sebuah program diklat. Perencanaan yang baik akan dapat membantu lembaga penyelenggara dalam melaksanakan kegiatnnya dengan terpadu sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.

Tujuan perencanaan diklat:

  1. Menentukan secara sistematis tahapan kegiatan diklat yang akan dilaksanakan
  2. Menentukan aspek-aspek atau unsur yang menjadi focus pada pelaksanaan diklat
  3. Menentukan model yang digunakan dalam desain diklat
  4. Menentukan bahan, media, metode yang digunakan dalam pelaksanaan diklat

Menurut Roesmingsih (2009: 46), perencanaan pelatihan meliputi:

1. Menetapkan tujuan pelatihan

Tujuan sangat penting karena berfungsi sebagai pemandu arah dari seluruh kegiatan diklat. Tujuan pelatihan yang ingin dicapai dirumuskan secara jelas, terukur dan dapat dicapai. Dalam hal ini ditetapkan tujuan diklat baik tujuan umum maupun tujuan khusus.

Tujuan umum : menggambarkan tujuan yang ingin dicapai pada akhir diklat

Tujuan khusus : menguraikan secara lebih spesifik, tujuan yang ingin dicapai untuk tercapainya tujuan umum pelatihan.

Setelah penetapan tujuan maka dapat dirumuskan strategi pelatihan yang sesuai.

 2. Menyusun strategi pelatihan

Penyusunan strategi pelatihan ini dilakukan untuk mengatur mekanisme pelatihan agar pelaksanannya efektif dan efisien.

3.Menentukan metode pelatihan. Ada beberapa metode yang dapat diterapkan dalam kegiatan diklat:

  • Ceramah

Metode ini sangat efektif diterapkan pada kondisi pembelajaran dimana jumlah pesertanya banyak, sernentara waktu yang tersedia sedikit, serta bertujuan untuk menyampaikan informasi-informasi dan fasilitator memiliki kemampuan presentasi yang baik.

  • Tanya jawab

Metode tanya jawab ini bertujuan mengembangkan pengetahuan dan sikap serta melatih peserta berkomunikasi lisan dan mengukur  tingkat pemahaman  mereka  terhadap materi yang telah disampaikan.

  • Diskusi kelompok

Metode ini cocok diterapkan dalam kondisi pembelajaran dengan peserta berjumlah sedikit. Metode ini dapat dijadikan sebagai media berinteraksi dalam memecahkan  suatu permasalahan dan mengembangkan kepercayaan diri.

  • Latihan

Cara meningkatkan ketrampilan dengan memberikan latihan-latihan dan praktek. Hal-hal yang perlu dilatih tidak saja ketrampilan, gerakan, tetapi juga kemampuan verbal olah vocal serta kemampuan berfikir. Untuk melatih kemampuan verbal misalnva bisa dilakukan dengan micro teaching, presentasy, diskusi, dll.

  • Studi kasus

Metode ini sangat efektif digunakan untuk mengembangkan kepekaan dan kreatifitas  peserta dalam  memecahkan suatu permasalahan/kasus. Metode ini sering pula disebut dengan metode Problem Solving.

  • Brainstorming

Metode ini sangat penting tidak saja untuk mengembangkan kreatifitas peserta diklat, tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk mengetahui apakah sebenarnya yang dipikirkan dan dikehendaki oleh peserta diklat.

  • Seminar

Metode pembelajaran dengan membahas permasalahan secara bersama-sama dan mengambil kesimpulan dan pemecahan terhadap permasalahan tersebut. Seminar biasanya dilengkapi dengan penyajian suatu makalah kemudian membahasnya secara bersama-sama.

  • Resitation

Cara memperdalam materi dengan memberikan tugas tertentu kepada peserta diklat, baik individu ataupun kelompok.

4. Membuat silabus

5. Menentukan materi pelatihan

Materi pelatihan yang akan diberikan harus sesuai dengan tujuan pelatihan. Materi pelatihan (modul pelatihan, diktat/buku-buku referensi, unit-unit kompetensi yang dipilih dan lain-lain) yang akan diberikan kepada peserta pelatihan disusun berdasarkan silabus pelatihan.

6. Membuat session plan

Session plan ini berisi tentang struktur dan prosedur dari diklat

Langkah-langkah perencanaan diklat dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini

PERENCANAAN DIKLAT

Sumber:

Dessler, Gary. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks

Dinas Kesehatan Kota Palembang. 2011. Analisis Kebutuhan Diklat, (Online), (http://www.dinkes.palembang.go.id/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=144, diakses 27 Oktober 2011)

Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Perencanaan, Analisis, Tujuan dan Jenis dari Pelatihan, (Online), (http://vibizmanagement.com/column/index/category/strategic_management/2285, diakses 27 Oktober 2011)

Papu, Johanes. 2002. Analisis Kebutuhan Pelatihan, (Online), (http://www.e-psikologi.com/epsi/industri_detail.asp?id=129, diakses 27 Oktober 2011)

Rina. 2011. Human Resource Management, (Online), (http://blog.stie-mce.ac.id/rina/2011/05/03/training-2-needs-assessment-of-training/, diakses 27 Oktober 2011)

Roesminingsih, Erny. 2009. Pedoman Model dan Paket Pelatihan Peningkatan Mutu Guru dalam Prespektif ManajemenStrategik.

Santoso, Budi. . Training Need Assessment, (Online), (http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=120%3Atraining-need-assessment&catid=64%3Apendidikan&Itemid=52&lang=id, diakses 27 Oktober 2011)

Suaedy, Sholeh. Tanpa Tahun. Penerapan Berbagai Metode Pembelajaran dalam Kegiatan Diklat, (Online), (http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengertian%20metode%20pelatihan%20diklat&source=web&cd=5&ved=0CDUQFjAE&url=http%3A%2F%2Fbdksurabaya.kemenag.go.id%2Ffile%2Fdokumen%2FPENERAPANBERBAGAIMETODEPEMBELAJARANDALAMKEGIATANDIKLAT.pdf&ei=J32rTpb-KoaHrAf68onTDA&usg=AFQjCNFJkrtfYN-k9waL8wS2VTKx8hOhPg&sig2=ALnQP8zrCJ3HEKfchY_E8w&cad=rja, diakses 29 Oktober 2011)

 

NEED ASSESSMENT

Pengertian needs assessment dari beberapa ahli:

  1. Alison Roselt(1982) mengatakan bahwa training needs assessment adalah suatu study sistematis terhadap suatu perubahan atau inovasi dengan cara mengumpulkan data, opini dari berbagai sumber guna mengambil keputusan yang efektif.
  2. Roger Kaufman (1999), needs assessment is a process we use to identify gaps between current results and desired ones, place gaps in results (need) in priority order, select the most important ones to be addressed.

Kesimpulannya:

Need assessment (analisis kebutuhan) adalah proses analisis data dalam mengidentifikasi gap(kesenjangan) antara kinerja saat ini dengan kinerja yang diharapkan sehingga dapat diperoleh data mengenai kebutuhan pelatihan.

Informasi kebutuhan pelatihan tersebut akan membantu organisasi dalam menyusun program pelatihan/diklat sehingga pelatihan tidak salah sasaran dan tidak terjadi penghamburan. Ditinjau dari sumbernya, needs (kebutuhan) dapat berasal dari:

SUMBER NEED

Tujuan Need Assessment

  1. Memastikan bahwa pelatihan memang merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki masalah atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok sasaran.
  2. Memastikan bahwa para partisipan baik individu maupun lembaga yang mengikuti pelatihan benar-benar sasaran yang tepat.
  3. Memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang menjadi pembelajaran selama pelatihan benar-benar sesuai dengan elemen-elemen yang dituntut dari suatu capaian tertentu.
  4. Mengidentifikasi bahwa jenis pelatihan dan metode yang dipilih sesuai dengan tema atau materi pelatihan.
  5. Memastikan bahwa masalah yang ada adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap tertentu bukan oleh alasan-alasan lain yang tidak bisa diselesaikan melalui pelatihan.
  6. Memperhitungkan untung-ruginya melaksanakan pelatihan mengingat bahwa sebuah pelatihan pasti membutuhkan sejumlah dana.

Manfaat Need Assessment

  1. Program diklat yang disusun sesuai dengan kebutuhan organisasi
  2. Menjaga dan meningkatkan motivasi peserta
  3. Efisiensi waktu dan biaya
  4. Dapat memahami penyebab timbulnya masalah seperti gap dan unsur manajemen yang lain (metode kerja yang kurang tepat, terbatasnya anggaran yang tersedia, perencanaan kurang matang, koordinasi yang tidak mantap, dan lain sebagainya).

Data yang harus dikumpulkan dalam need assessment:

  1. Alasan. Kebutuhan di setiap bagian dalam organisasi itu berbeda, sehingga kita dituntut benar-benar jeli dalam melihat kebutuhan yang ada
  2. Peserta. Menentukan siapa yang akan menjadi peserta dalam pelatihan
  3. Pekerjaan. Data atau informasi yang berhubungan dengan aspek pekerjaan yang harus dikumpulkan dan dianalisis mencakup hal-hal seperti: jenis pekerjaan (jabatan) apa yang sedang di review dan apa fungsi utama pekerjaan (jabatan) tersebut, apa saja kompetensi yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan secara optimal, apa standard kinerja yang harus dipenuhi oleh pegawai, apakah pegawai sudah memenuhi standard kinerja yang diharapkan.
  4. Materi. Menentukan materi yang akan dirancang dalam sebuah program pelatihan merupakan suatu hal yang bersifat essential atau tidak.
  5. Dukungan. Komitmen dari para manager atau supervisor untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi peserta untuk dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam pelatihan.
  6. Biaya. Sekecil apapun kegiatan pelatihan pasti membutuhkan dana. Oleh karena itu amat penting untuk menghitung untung rugi dari pelaksanaan suatu pelatihan.
  7. Memilih metode. Sebelum menentukan metode yang akan digunakan dalam pengumpulan data, maka perlu dipikirkan sumber-sumber data yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Sumber-sumber data tersebut diantaranya adalah: Riset atau survey (critical incidents research, working climate survey, customer service survey, dsb), Penilaian kinerja (performance appraisal), Perencanaan karir pegawai, Perubahan prosedur kerja dan perkembangan teknologi, Perencanaan SDM.

 

Dalam needs assessment umumnya mencakup 3 analisis yaitu:

1. Analisis organisasi

Analisis organisasi menyangkut pertanyaan-pertanyaan di mana atau bagaimana di dalam organisasi, ada personel yang memerlukan pelatihan. Setelah itu dipertimbangkan biaya, alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan. Kemudian dilakukan analisis iklim organisasi, sebab hal ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan suatu program pelatihan. Sebagai hasil dari analisis iklim organisasi dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan pelatihan. Aspek lain dari analisis organisasi ialah penentuan berapa banyak karyawan yang perlu dilatih untuk tiap-tiap klasiflkasi pekerjaan. Cara-cara untuk memperoleh informasi-informasi ini ialah melalui angket, wawancara atau pengamatan.

2.Analisis pekerjaan

Analisis pekerjaan antara lain menjawab pertanyaan : apa yang harus diajarkan atau diberikan dalam pelatihan agar para karyawan yang bersangkutan mampu melakukan pekerjaan secara efektif.

Tujuan utama analisis tugas ialah untuk memperoleh informasi tentang :

    1. Tugas-tugas yang harus dilakukan oleh karyawan.
    2. Tugas-tugas yang telah dilakukan pada saat itu.
    3. Tugas yang seharusnya dilakukan, tetapi belum atau tidak dilakukan karyawan.
    4. Sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan baik, dan sebagainya

Untuk memperoleh informasi-informasi ini dapat dilakukan melalui tes-tes personel, wawancara, rekomendasi-rekomendasi, evaluasi rekan sekerja, dan sebagainya.

3. Analisis orang/pribadi

Dalam analisis pribadi menentukan siapakah yang membutuhkan pelatihan (dengan melihat antara kinerja saat ini dan kinerja yang diharapkan) dan pelatihan  macam apa yang dibutuhkan. Untuk hal ini diperlukan waktu untuk mengadakan diagnosis yang lengkap tentang kemampuan-kemampuan masing-masing personel. Untuk memperoleh informasi ini dapat dilakukan melalui achievement test, observasi, dan wawancara.

Sumber:

Dessler, Gary. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks

Dinas Kesehatan Kota Palembang. 2011. Analisis Kebutuhan Diklat, (Online), (http://www.dinkes.palembang.go.id/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=144, diakses 27 Oktober 2011)

Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Perencanaan, Analisis, Tujuan dan Jenis dari Pelatihan, (Online), (http://vibizmanagement.com/column/index/category/strategic_management/2285, diakses 27 Oktober 2011)

Papu, Johanes. 2002. Analisis Kebutuhan Pelatihan, (Online), (http://www.e-psikologi.com/epsi/industri_detail.asp?id=129, diakses 27 Oktober 2011)

Rina. 2011. Human Resource Management, (Online), (http://blog.stie-mce.ac.id/rina/2011/05/03/training-2-needs-assessment-of-training/, diakses 27 Oktober 2011)

Roesminingsih, Erny. 2009. Pedoman Model dan Paket Pelatihan Peningkatan Mutu Guru dalam Prespektif ManajemenStrategik.

Santoso, Budi. . Training Need Assessment, (Online), (http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=120%3Atraining-need-assessment&catid=64%3Apendidikan&Itemid=52&lang=id, diakses 27 Oktober 2011)

Suaedy, Sholeh. Tanpa Tahun. Penerapan Berbagai Metode Pembelajaran dalam Kegiatan Diklat, (Online), (http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengertian%20metode%20pelatihan%20diklat&source=web&cd=5&ved=0CDUQFjAE&url=http%3A%2F%2Fbdksurabaya.kemenag.go.id%2Ffile%2Fdokumen%2FPENERAPANBERBAGAIMETODEPEMBELAJARANDALAMKEGIATANDIKLAT.pdf&ei=J32rTpb-KoaHrAf68onTDA&usg=AFQjCNFJkrtfYN-k9waL8wS2VTKx8hOhPg&sig2=ALnQP8zrCJ3HEKfchY_E8w&cad=rja, diakses 29 Oktober 2011)

SKENARIO SUPERVISI KLINIS ANTARA KEPALA SEKOLAH DAN GURU

PERTEMUAN AWAL

(Ketika siang hari di sekolah tepatnya di ruang kepala sekolah)

Guru :

(mengetuk pintu ruang kepala sekolah)

Selamat siang,, boleh saya masuk bu Erni?

Kepala sekolah : Selamat siang,, ia silahkan Bu Dirka

Silahkan duduk!

(Bu Dirka duduk di hadapan Bu Erni setelah dipersilahkan)

Ada yang bisa saya bantu?

Guru : Ya Bu Erni.sebelumnya maaf mengganggu waktu Ibu

Saya ingin menceritakan masalah yang saya hadapi akhir-akhir ini dalam melakukan pembelajaran di kelas. Saya ingin Bu Erni membantu saya untuk mencari solusi dari permasalahan yang saya hadapi.

Kepala sekolah : Tentu saja Ibu, dengan senang hati saya akan membantu Bu Dirka.
Kepala sekolah : Jadi.bagaimana Bu Dirka,,,apa yang bisa saya bantu untuk Bu Dirka?
Guru : Begini Bu.

Tahun ini saya mengajar bahasa inggris kelas X. Kemarin saya mengadakan ulangan harian 1 dan hasilnya sangat tidak memuaskan. Beberapa orang memang mendapat nilai yang tinggi bahkan 100. Namun lebih banyak yang memperoleh nilai di bawah rata-rata. Ketika saya perhatikan anak yang memperoleh nilai dibawah rata-rata, saya merasa memang ketika saya mengajar mereka ramai sendiri, tidak fokus mendengarkan penjelasan saya. Hal ini membuat saya bingung. apakah RPP yang saya buat tidak cocok diterapkan di kelas ataukah dalam pelaksanaannya yang saya tidak bisa menguasai kelas.

Oleh karena itu saya meminta bantuan Bu Erni untuk meluangkan waktunya di sekolah untuk mensupervisi ketika saya mengajar di kelas

Kepala sekolah : Dengan senang hati saya akan membantu Bu Dirka

Hal tersebut juga merupakan tugas saya sebagai kepala sekolah

Saya juga bangga kepada guru seperti Bu Dirka yang telah berterus terang menceritakan permasalahan yang dihadapi dan tidak ragu untuk meminta bantuan kepada saya

Saya berharap guru-guru lainnya akan seperti Bu Dirka.

Bolehkah saya melihat RPPnya?

Guru : Terima kasih Bu Erni atas sanjungannya.

Saya menyusun RPP sendiri tentunya berdasarkan SK, KD yang ada. Indikator sendiri saya buat mengacu pada KD, buku yang saya pakai, kemampuan anak serta ketersediaan media pembelajaran yang menunjang.

(Guru menyerahkan RPP yang telah dibuat yang akan digunakan untuk pertemuan berikutnya di kelas kepada kepala sekolah)

Kepala sekolah : Bagus Bu Dirka sudah banyak mempertimbangkan aspek-aspek dalam pembelajaran dan sudah bisa membuat RPP sendiri

Apakah ibu membutuhkan bantuan pengamatan disemua aspek keterampilan mengajar?

Guru : Saya ingin mengetahui sejauhmana keterampilan ceramah di depan kelas yang saya miliki. Bagaimana keterampilan saya menjelaskan materi kepada siswa sudah cukup atau tidak? Bagaimana keterampilan saya dalam mengelola kelas dan berinteraksi dengan siswa.
Kepala sekolah : Baik. Bagaimana mengenai instrumen observasi yang akan digunakan Bu?
Guru : Format instrumen penilaian ketika saya mengajar di kelas terkait dengan keterampilan ceramah, pengelolaan kelas dan interaksi dengan siswa. Bu Erni menuliskan aspek yang masih kurang ketika saya mengajar sehingga nanti bisa digunakan dalam melakukan perbaikan pengajaran. Bagaiman Bu Erni?
Kepala sekolah : Baiklah saya setuju dengan Bu Dirka

Kemudian kapan saya bisa masuk ke kelas Bu Dirka untuk melakukan supervisi ini?

Guru : Saya mengajar bahasa inggris di kelas X 1 hari Jumat jam 09.30. Apakah Bu Erni mempunyai waktu luang hari itu?
Kepala sekolah : Iya saya bisa melakukan supervisi untuk membantu Bu Dirka hari itu.

RPP ini saya bawa pulang untuk saya pelajari lebih lanjut dan saya akan menyalin instrumen observasi yang telah kita buat bersama ini.

Guru : Baiklah Bu. semua masalah yang saya alami sudah saya ceritakan.

Terima kasih atas kesediaan Bu Erni membantu saya dan sudah meluangkan waktu untuk saya.

Kepala sekolah : Sama-sama Bu Dirka

Masalah anda di sekolah juga merupakan masalah bagi saya

Mari kita bekerja sama mengatasi masalah yang ada untuk menciptakan sekolah yang bermutu (kepala sekolah berdiri dan menjabat tangan guru)

Guru : Saya permisi dulu bu.
Kepala sekolah : Iya Bu Dirka.

 

(guru berjalan keluar dari ruang kepala sekolah)

 

REVISI KONTRAK

Jumat, 30 November 2012 di pagi hari guru menemui kepala sekolah di ruangan kepala sekolah untuk membicarakan kontrak yang telah dibuat sebelumnya.
Guru : (mengetuk pintu ruang kepala sekolah)

Selamat siang,, boleh saya masuk bu Erni?

Kepala sekolah : Selamat siang,, ia silahkan Bu Dirka

Silahkan duduk!

(Bu Dirka duduk di hadapan Bu Erni setelah dipersilahkan)

Ada yang bisa saya bantu?

Guru : Ya Bu Erni.sebelumnya maaf mengganggu waktu Ibu

Bagaiamana Bu? Apakah ibu bersedia untuk datang ke kelas saya hari ini?

Kepala sekolah : Tentu saja Ibu. dengan senang hati. Apakah Bu Dirka sudah siap?
Guru : Sudah Bu Erni..
Kepala sekolah : Bagaimana dengan kontrak yang sudah kita buat? Apakah ada perubahan Bu?
Guru : Tidak bu, tetap saja seperti apa yang telah kita sepakati.
Kepala sekolah : Bagaimana dengan pelaksanaanya sendiri nanti?
Guru : Bu Erni akan masuk kelas dan saya perkenalkan dengan siswa kemudian Bu Erni silahkan berbincang dengan siswa sebelum pelajaran saya mulai dan Ibu terserah memilih tempat duduk menurut Bu Erni yang paling tepat
Kepala sekolah : Baik saya setuju

Mungkin saya sebaiknya duduk di barisan belakang sendiri dari tempat duduk siswa.

Guru : Baiklah Bu. 10 menit lagi pelajaran sudah di mulai. Saya akan mengambil perlengkapan mengajar terlebih dahulu.
Kepala sekolah : Iya bu silahkan. Kita akan ke kelas bersama-sama.

(kepala sekolah berdiri dan menjabat tangan guru)

Guru : Baik Bu. Permisi…
Kepala sekolah : Iya Bu Dirka, saya akan menyusul.

 

(guru keluar dari ruang kepala sekolah)

 

OBSERVASI KELAS

Kepala sekolah dan guru memasuki ruang kelas X.1 bersama-sama. (Guru mengucapkan salam)
Guru : Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan kepala sekolah kita. Tolong ucapkan salam kepada kepala sekolah karena sudah mau hadir dan menyempatkan waktu di kelas kita untuk menemani kita belajar bersama.
(Serentak peserta didik mengucapkan selamat pagi bu kepala sekolah)

(Dengan tersenyum dan wajah yang ramah, kepala sekolah membalas ucapan salam tersebut)

Kepala Sekolah : Selamat pagi anak-anak! Sudah siap belajar hari ini?
(Serentak peserta didik menjawab, siap bu kepala sekolah)
Kepala Sekolah : Bolehkah ibu belajar bersama kalian hari ini? karena ibu sudah lama tidak merasakan belajar bahasa inggris bersama seperti kalian dengan bu guru, pasti lebih asik berada di kelas ini.
(Serentak peserta didik menjawab, boleh bu)
Kepala Sekolah : Baiklah. Ibu akan duduk di belakang saja biar kalian tidak terganggu. Bu Dirka silahkan melanjutkan pembelajarannya!
(kepala sekolah berjalan ke barisan paling belakang dari tempat duduk siswa dan duduk di tempat tersebut. Guru mulai melakukan pembelajaran sesuai dengan RPP dan kepala sekolah mulai melakukan penilaian sesuai dengan instrumen, mengamati kondisi kelas, apa yang dilakukan siswa, dan merekam kegiatan tersebut sampai selesai)

(akhirnya pembelajaran selesai)

Guru : Sekian dari penjelasan materi hari ini. Kesimpulan materi hari ini sudah disampaikan dengan baik oleh Via. Ada pertanyaan lagi?
Siswa : Tidak bu. sudah jelas
Guru : Baiklah. Terima kasih juga kepada Bu Erni yang telah menemani kita belajar selama 2 jam ini. Ada yang mau disampaikan Bu?
Kepala sekolah : Iya. Terima kasih anak-anak sudah menerima Ibu di kelas ini. Ibu senang berada di sini.
Siswa : Sama-sama Bu
Guru : Baiklah anak-anak, kalau begitu ibu dan Bu Erni undur diri dulu. Selamat siang anak-anak
Siswa : Selamat siang Bu
(kepala sekolah dan guru keluar meninggalkan ruangan kelas)
Guru : Bagaimana Bu Erni penampilan mengajar saya tadi?
Kepala sekolah : Ia saya sudah merekam dan mencatatnya..nanti saya akan analisis terlebih dahulu sehingga bisa kita jadikan bahan diskusi di pertemuan berikutnya
Guru : Baiklah Bu. kira-kira kapan bisa kita lakukan pertemuan balikan?
Kepala sekolah : Secepatnya lebih baik. Bagaimana kalau nanti jam 12.15

Silahkan Bu Dirka ke ruang kantor saya

Guru : Baiklah Bu Erni

Terima kasih atas kerja sama dan bantuannya

 

PERTEMUAN BALIKAN

(guru mengetuk pintu ruang kepala sekolah)
Guru : Permisi Bu!

Boleh saya masuk?

Kepala sekolah : Ya silahkan masuk
(guru masuk ke dalam ruangan kepala sekolah)
Kepala sekolah : Silahkan duduk Bu Dirka
Guru : (duduk) terima kasih Bu
Kepala sekolah : Bagaimana perasaan ibu ketika mengajar tadi?
Guru : Saya sedikit grogi. Walaupun saya sudah berusaha menghilangkan rasa grogi namun tetap saja ada. Saya tidak terbiasa mengajar di kelas diamati oleh Bu kepala sekolah
Kepala sekolah : Tidak terlihat seperti itu bu. Hari ini ibu mengajar dengan baik.

Ini RPP yang Bu Dirka berikan pada pertemuan awal. Kemarin saya telah menganalisis RPP yang telah ibu buat dan ternyata sudah bagus. Dilihat dari tujuan pembelajarannya pun sudah terwujudkan dalam pengajaran yang ibu berikan tadi pagi.

Namun sesuai dengan kesepakatan keterampilan yang telah kita kontrakkan pada awal pertemuan, bagaimana perasaan Bu Dirka. Apakah Bu Dirka sudah merasa terlaksana semua dengan baik?

Guru : Saya sudah mengajar sesuai dengan RPP dan kemampuan yang saya miliki. Saya sudah melakukan interaksi dengan siswa, menjelaskan dengan baik, melakukan tanya jawab dan memperhatikan kondisi kelas. saya rasa sudah cukup terlaksana dengan baik. Namun saya masih tetap bingung mengenai nilai ulangan yang banyak dibawah rata-rata. Bagaimana Bu?
Kepala sekolah : Saya juga sependapat seperti itu, akan terasa sempurna jika kita lihat hasil video yang saya rekam tadi, kita lihat kemajuan usaha yang sudah ibu guru lakukan.
(Kepala sekolah memutarkan video dan dilihat oleh guru)
Kepala sekolah : Bagaimana pendapat ibu setelah melihat video ini?
Guru : Wah ternyata seperti itu ya bu keadaan kelas saya ketika mengajar, seperti apa yang saya katakan diawal, mereka yang di bagian belakang membuat keramaian.
Kepala sekolah : Iya bu. Sekarang kita bisa melihat Bu. beberapa anak yang mendengarkan duduk di depan memang fokus pada pembelajaran sehingga mendapatkan nilai yang baik. Namun pada sisi  paling kanan, kiri dan belakang dari deretan tempat duduk siswa kebanyakan siswa tidak fokus terhadap pembelajaran. Ada yang tidur, sibuk berbicara dengan temannya. Mungkin pada sisi-sisi ini di kelas yang tidak mendapatkan perhatian dari Ibu?
Guru : Iya memang saya juga merasa sering mendengar keributan dari sisi-sisi ini. Namun saya kira mereka masih mendengarkan saya karena biasanya tatapan matanya masih mengarah kepada saya.
Kepala sekolah : Kalau yang saya rasakan di belakang memang mereka mengamati Ibu mengajar, namun kelamaan mereka mulai ramai sendiri. Hal ini dikarenakan ternyata Ibu kebanyakan mengucapkan kata “e” akhirnya membuat siswa berbicara tentang itu.
Guru : Baik Bu Erni akan saya perhatikan kembali perkataan saya sehingga tidak dijadikan bahan pembicaraan. Namun selain itu apakah ada hal yang lainnya yang kurang dalam pengajaran saya tadi?
Kepala sekolah : Bagaimana kalau ibu lebih memperhatikan di sisi-sisi tadi? Seperti lebih banyak bertanya kepada siswa di sisi itu sehingga siswa terpancing motivasinya untuk fokus mendengarkan supaya bisa menjawab pertanyaan dari Bu Dirka. Selain itu Bu Dirka juga harus dapat membagi pandangan ke sisi-sisi tadi lebih sehingga tidak memberi kesempatan siswa untuk lengah mencari kesibukan sendiri.
Guru : Baik Bu saya akan mencoba melaksanakan saran-saran yang telah diberikan oleh Bu Erni
Kepala sekolah : Sekarang bagaimana perasaan Bu Dirka setelah serangakian pertemuan yang kita lakukan?
Guru : Saya merasa lega telah mengetahui kekurangan saya selama mengajar sehingga saya dapat memperbaikinya sesuai dengan saran-saran yang telah diberikan. Dengan ini saya tidak kebingungan lagi. Mudah-mudahan saran yang diberikan Bu Erni dapat saya laksanakan dengan baik agar pengajaran yang saya lakukan dapat menjadi lebih baik
Kepala sekolah : Saya senang Bu Dirka mempunyai rasa optimis seperti itu. Ibu pasti dapat mempertahankan semangat mengajar Ibu untuk menjadi guru yang profesional. Saya akan siap selalu membantu Ibu
Guru : Terima kasih Bu Erni atas bantuan dan saran-sarannya. Saya akan melakukan menerapkan saran-saran tersebut dalam pengajaran yang saya lakukan dan mulai akan saya rencanakan dari sekarang.
Kepala sekolah : Sama-sama Bu Dirka
Guru : Baiklah Bu. saya mohon pamit dulu karena ada jam mengajar di kelas. senang bekerja sama dengan Ibu
Kepala sekolah : Ya.silahkan.Selamat siang

Senang juga bekerja sama dengan Bu Dirka.

Kepala sekolah mengantar guru keluar dari ruang kantornya